Legenda Atlantis Misteri Yang Abadi

atlantis-6Atlantis merupakan salah satu misteri dunia yang paling banyak mencuri perhatian di kalangan pecinta misteri dunia. Sahabat anehdidunia.com bisa lihat di Misteri Dunia Yang Paling Banyak Dipertanyakan di postingan terdahulu. Mitos tentang Peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsafat Yunani kuno bernama Plato (427 – 347 SM) dalam buku Critias dan Timaeus.

atlantis-1

Dalam buku Timaeus Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.

Dibagian lain pada buku Critias adalah adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM). Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis.

Garis besar kisah pada buku tersebut Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat, tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.

atlantis-2

Jika dibaca dari sepenggal kisah diatas maka kita akan berpikiran bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban yang sangat memukau. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar dan mempunyai kehidupan yang makmur. Tapi kemudian saya mempunyai pertanyaan, apakah itu hanya sebuah cerita untuk pengantar tidur pada jamannya Plato atau memang Plato mempunyai bukti2 kuat dan otentik bahwa benua atlantis itu benar-benar pernah ada dalam kehidupan di bumi ini?

Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan dan orang-orang dalam pencarian untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada.

Menurut perhitungan versi Plato waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?

Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Sahabat anehdidunia.com bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang. Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?

atlantis-3

Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia. Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

atlantis-4

Sedangkan menurut Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Sahabat anehdidunia.com di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ini ada lagi yang lebih unik dari Santos dan kawan-kawan tentang usaha untuk menguak misteri Atlantis. Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid Benette”. Beberapa penggal kehidupan dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas, sebagai bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban tinggi Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang mengapa Atlantis musnah. Di bawah ini adalah ingatan Inggrid Bennette.

Kehidupan yang Dipenuhi Kecerdasan
Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dipromosikan sebagai kepala energi wanita “Pelindung Kristal” (setara dengan seorang kepala pabrik pembangkit listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang luas yang bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa diletakkan di atas alas dasar hitam. Fungsinya adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya melindungi kristal tersebut. Pekerjaan ini tak sama dengan sistem operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga keteguhan dalam hati, memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam pekerjaan, ini adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang lelaki yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami, pelindung lainnya wanita.

Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda rajutan emas, persis seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi, dengan gulungan bengkok jatuh bergerai di atas punggung. Setiap hari rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah sebagian pekerjaan rutin. Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah bahwa “tubuh merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan tubuh dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan. Saya mengenakan baju panjang tembus pandang, menggunakan daun pita emas yang diikat di pinggang belakang setelah disilang di depan dada. Lelaki berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian orang memakai topi, sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang sama. Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan, mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan jiwa raga kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari bahan bening yang sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna karena bertujuan untuk pengobatan. Hubungannya sangat besar dengan ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang spesifik memiliki fungsi pengobatan.

Berkomunikasi dengan Hewan
Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di sebuah tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau besar yang indah, mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan besar. Di siang hari lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, setelah malam tiba kembali ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah tempat yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib dan penasihat kami. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan masyarakat kami. Hanya sedikit orang pergi mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi mereka membuat saya penuh vitalitas sekaligus memberiku kekuatan. Saya dapat berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin pergi ke padang luas yang jauh jaraknya, saya memejamkan mata dan memusatkan pikiran pada tempat tersebut. Akan ada suatu suara “wuung” yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah berada di tempat itu.

Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama seperti kuda makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya, sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak lewat hubungan telepati. Secara relatif, pikiran Unicorn sangat polos. Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin berlari cepat”. Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan rasa hormat. Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi mempunyai pikiran atau maksud jahat, ketika menemui tantangan sekalipun akan tetap demikian.

Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama sekali tidak percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina jiwa mengatakan kepadaku: “Saat ketika kondisi dunia kembali pada keseimbangan dan keharmonisan, semua orang saling menerima, saling mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.

Lingkungan yang Indah Permai
Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas. Padang rumput ini menyebarkan aroma wangi yang lembut, dan saya suka duduk bermeditasi di sana. Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga segar sangat banyak, maka ditanam secara luas. Misalnya, bunga yang berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan saja sangat menggoda secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang rumput ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus dan berkualitas tinggi serta kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak tunas, kemudian memetik dan mengekstrak sari pati kehidupannya.

Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam masyarakat kami. Masyarakat terbiasa dengan menghormati dan memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan juga hidup di timur laut. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.

Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya tukang kebun dan tukang bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari mereka mempunyai kecerdasan, pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik lebih bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan, marah dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif, lagi pula tubuh manusia terlahir untuk pekerjaan fisik, hal tersebut telah dibuktikan. Namun, selalu ada pengecualian, misalnya lelaki yang kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang pintar akan membimbing orang-orang ini bekerja yang sesuai dengan kondisi mereka. Setiap orang akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini merupakan hal yang paling mendasar.

Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak terikat secara universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan sayur-mayur. Setiap orang merupakan partikel bagiannya, setiap orang tahu, bahwa pengabdian mereka sangat dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan. Kami tidak pernah membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan atau kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.

Teknologi yang Tinggi
Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang” (UFO), mereka menggunakan medan magnet mengendalikan energi perputaran dan pendaratan, sarana hubungan jenis ini biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek hanya menggunakan katrol yang dapat ditumpangi dua orang. Ia mempunyai sebuah mesin yang mirip seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga menggunakan medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi rumah tangga atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan cara yang sama menggunakan alat angkut besar yang disebut “Subbers.”

Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami berkomunikasi menggunakan kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai daerah. Sebagian besar informasi diterima oleh “orang pintar” melalui respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima dengan cara yang istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat. Maka, pekerjaan mereka adalah duduk dan menerima informasi yang disalurkan dari tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya mengoperasikan kristal besar, juga dikerjakan melalui hati.

Pengobatan yang Maju
Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan yang digunakan, semuanya menggunakan kristal, warna, musik, wewangian dan paduan ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.

Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat penderita masuk, sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien diarahkan ke sebuah kamar khusus untuk menentukan pengobatan. Di kamar pertama, asisten yang terlatih baik dan berpengetahuan luas tentang pengobatan akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh pasien. Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar tersebut, sang pasien akan berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan mengatur rancangan pengobatan yang sesuai untuk pasien.

Setelah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan diletakkan di pasien. Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut, terakhir akan tampak sebuah warna. Selanjutnya, pasien diminta merenung, agar energi pengobatan meresap ke dalam tubuh. Dengan demikian, semua indera yang ada akan sehat kembali, “warna” menyembuhkan indera penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera penciuman, “musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum air dari tabung. Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar, menyinari tubuh dari atas hingga ke bawah. Seluruh tubuh bagai telah terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan “medan magnet” dan “energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik dan kejiwaan.

Pendidikan Anak yang Ketat
Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3 tahun. Mereka menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan gedung sekolah terdapat lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat bimbingan. Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang. Karakter leluhur kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi masyarakat kami waktu itu. Misalnya, memilih binatang untuk percobaan. Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Kiamat yang Melanda Atlantis
Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan perkawinan. Jika Anda bermaksud mengikat seseorang, maka akan melaksanakan sebuah upacara pengikatan. Pengikatan tersebut sama sekali tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat, hanya berdasarkan pada perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis untuk mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan sebuah bagian penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan makan atau tidur. Ini adalah bagian dari “keberadaan hidup secara keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik tidak menampakkan usia kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun lamanya.

Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan setengah manusia separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang berkepala manusia. Di saat itu, orang Atlantis dapat mengadakan transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan hewan pada alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka adalah seks. Orang yang sadar mengetahui bahwa ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada masyarakat kami, orang-orang sangat cemas dan takut terhadap hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat besar hubungannya dengan keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, dan seseorang tidak boleh mengganggu pertumbuhan inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai lawan main, biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak matang.

Teknologi Maju
Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung ajal. Di antara kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun, adalah sebagian besar orang sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik terhadap hal ini. Unsur materiil telah kehilangan keseimbangan. Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan, suhu udara disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi udara dan air. Terakhir ini menyebabkan kehancuran Atlantis.

Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang paling fundamental dari galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang paling stabil. Mencoba menyatukan atau mengubah unsur pokok ini telah melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di bagian barat Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam tahu, hal ini telah mengakibatkan kehancuran total. Mereka mengira dirinya di atas orang lain, mereka berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang tersebut.

Menjelang Hari Kiamat
Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang pintar dan yang mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir dari peradaban kami hanya disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan baru akan muncul, semua orang mulai berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib mujur akan hidup, mereka akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah Atlantis akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran, Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu saat-saat tersebut semakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu lumba-lumba. Mereka memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat yang tenang, dan menjaga bola kristal, lumba-lumba memberitahu kami dapat pergi dengan aman ke barat.

atlantis-5

Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian pergi sampai ke Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis dengan kapal perahu, ke daratan baru yang tidak terdapat di peta. Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian dari peradaban kami, oleh karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang merasa kecewa dan meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman. Oleh karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, setelah perjalanan segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka kembali dengan selamat. Dan keadaan negerinya paling tidak telah memberi tahu kami pengetahuan tentang kehidupan di luar Atlantis.

Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami kerusakan apa pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke kota. Saat beberapa pekan terakhir, kristal ditutup oleh pelindung transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu saat nanti, ia akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat kristal ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus menyingkap misteri lain yang tak terungkap selama beberapa abad.

Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik terakhir, bumi kandas, gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana kebakaran. Lempeng bumi saling bertabrakan dengan keras. Bumi sedang mengalami kehancuran, orang-orang di dalam atap lengkung bangunan kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya sangat tenang. Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok, kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap tebal bergulung-gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api merah mewarnai langit. Ruang dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat sesak. Lalu saya pingsan, selanjutnya, saya ingat roh saya terbang ke arah terang. Saya memandang ke bawah dan terlihat daratan sedang tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke segala penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat pasti jatuh ke dalam kawah api. Saya mendengar dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti sebuah cerek air raksasa yang mendidih, bagai seekor binatang buas yang kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut telah menenggelamkan daratan.

Sumber Kehancuran
Lewat ingatan Inggrid Benette, diketahui tingkat perkembangan teknologi bangsa Atlantis, berbeda sekali dengan peradaban kita sekarang, bahkan pengalamannya akan materiil berbeda dengan ilmu pengetahuan modern, sebaliknya mirip dengan ilmu pengetahuan Tiongkok kuno, berkembang dengan cara yang lain. Peradaban seperti ini jauh melampaui peradaban sekarang. Mendengarnya saja seperti membaca novel fiktif. Bandingkan dengan masa kini, kemampuan jiwa bangsa Atlantis sangat diperhatikan, bahkan mempunyai kemampuan supernormal, mampu berkomunikasi dengan hewan, yang diperhatikan orang sekarang adalah pintar dan berbakat, dicekoki berbagai pengetahuan, namun mengabaikan kekuatan dalam.

Bangsa Atlantis mementingkan “inteligensi jiwa” dan “tubuh” untuk mengembangkan seluruh potensi terpendam pada tubuh manusia, hal ini membuat peradaban mereka bisa berkembang pesat dalam jangka panjang dan penyebab utama tidak menimbulkan gejala ketidakseimbangan. Mengenai punahnya peradaban Atlantis, layak direnungkan orang sekarang. Plato menggambarkan kehancuran Atlantis dalam dialognya sebagai berikut:

“Hukum yang diterapkan Dewa Laut membuat rakyat Atlantis hidup bahagia, keadilan Dewa Laut mendapat penghormatan tinggi dari seluruh dunia, peraturan hukum diukir di sebuah tiang tembaga oleh raja-raja masa sebelumnya, tiang tembaga diletakkan di tengah di dalam pulau kuil Dewa Laut. Namun masyarakat Atlantis mulai bejat, mereka yang pernah memuja dewa palsu menjadi serakah, maunya hidup enak dan menolak kerja dengan hidup berfoya-foya dan serba mewah.”

Plato yang acap kali sedih terhadap sifat manusia mengatakan:
“Pikiran sekilas yang suci murni perlahan kehilangan warnanya, dan diselimuti oleh gelora nafsu iblis, maka orang-orang Atlantis yang layak menikmati keberuntungan besar itu mulai melakukan perbuatan tak senonoh, orang yang arif dapat melihat akhlak bangsa Atlantis yang makin hari makin merosot, kebajikan mereka yang alamiah perlahan-lahan hilang, tapi orang-orang awam yang buta itu malah dirasuki nafsu, tak dapat membedakan benar atau salah, masih tetap gembira, dikiranya semua atas karunia Tuhan.”

Hancurnya peradaban disebabkan oleh segelintir manusia, banyak yang tahu sebabnya, akan tetapi sebagian besar orang mengabaikannya, maka timbul kelongsoran besar, dalam akhlak dan tidak dapat tertolong. Maka, sejumlah kecil orang berbuat kesalahan tidak begitu menakutkan, yang menakutkan adalah ketika sebagian besar orang “mengabaikan kesalahan”, hingga “membiarkan perubahan” selanjutnya diam-diam “menyetujui kejahatan”, tidak dapat membedakan benar dan salah, kabar terhadap kesalahan mengakibatkan kesenjangan sifat manusia, moral masyarakat merosot dahsyat, mendorong peradaban ke jalan buntu.

Kita sebagai orang modern, dapatlah menjadikan sejarah sebagai cermin pelajaran, merenungi kembali ilmu yang kita kembangkan, yang mengenal kehidupan hanya berdasarkan pengenalan yang objektif terhadap dunia materi yang nyata, dan mengabaikan hakikat kehidupan dalam jiwa. Makna kehidupan sejati, berangsur menjadi bisnis memenuhi nafsu materiil, seperti ilmuwan Atlantis, segelintir orang tunduk pada keserakahan, tidak mempertahankan kebenaran, demi kekuasaan dan kemuliaan, mengembangkan teknologi yang salah, merusak lingkungan hidup. Apakah kita sedang berbuat kesalahan yang sama?

dari berbagai sumber.

Tokoh yang Berpengaruh Pada Perang Salib

Perang Salib adalah kumpulan gelombang dari pertikaian agama bersenjata yang dimulai oleh kaum Kristiani pada periode 1095 – 1291; biasanya direstui oleh Paus atas nama Agama Kristen, dengan tujuan untuk menguasai kembali Yerusalem dan “Tanah Suci” dari kekuasaan kaum Muslim, awalnya diluncurkan sebagai jawaban atas permintaan dari Kekaisaran Bizantium yang beragama Kristen Ortodoks Timur untuk melawan ekspansi dari Dinasti Seljuk yang beragama Islam ke Anatolia. Inilah tokoh-tokoh yang berpengaruh pada Perang Salib.
1. Salahuddin Al-Ayyubi
Salahuddin Ayyubi adalah seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr. Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan Tentara Salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud, ia adalah orang yang berhasil menaklukan Yerussalem.
2. Richard The Lion Heart
Richard I (6 September 1157 – 6 April 1199) adalah raja Inggris antara tahun 1189 sampai 1199. Ia sering juga dijuluki Richard si Hati Singa (Inggris: Lion heart, Perancis: Cœur de Lion) karena keberaniannya. Ia adalah anak ketiga dari Henry II dari Inggris, dan merebut tahta Inggris dari ayahnya dengan bekerja sama dengan Phillip II dari Perancis pada tahun 1189. Richard I terkenal sebagai salah satu tokoh dalam Perang Salib, di mana salah satu keberhasilannya dalam perang tersebut adalah merebut Siprus untuk mendukung pasukan Perang Salib. setelah sampai di Acre Richard kemudian merebut Kota Acre pada tahun 1191 dan kemudian Richard mulai mengarahkan pasukannya untuk menyerbu Yerusalem. Pasukan Richard berjalan melalui garis pantai antara kota Acre dan Jaffa, ketika perjalanan menuju Kota Jaffa pasukan Richard dihadang pasukan Saladin dan terjadilah pertempuran di dekat kota Arsuf yang dimenangkan Richard dan memaksa Saladin mundur ke Yerusalem untuk bertahan. Richard akhirnya memasuki kota jaffa tanpa perlawanan karena kota sudah dibakar oleh Saladin.
3. Barbarossa
Friedrich I Barbarossa[1] (1122 – 10 Juni 1190) adalah seorang Raja Jerman yang dipilih di Frankfurt pada tanggal 4 Maret 1152 dan dimahkotai di Aachen pada tanggal 9 Maret, dimahkotai sebagai Raja Italia di Pavia tahun 1154, dan dimahkotai sebagai Kaisar Kekaisaran Romawi Suci oleh Paus Adrianus IV tanggal 18 Juni 1155. Ia dimahkotai sebagai Raja Burgundi di Arles pada tanggal 30 Juni 1178.
4. Dracula
Dracula yang selama ini digambarkan sebagai tokoh fiktif sebagai makhluk penghisap darah ternyata memang ada pada zaman Perang Salib, tetapi bukan sebagai kelelawar atau semacamnya yang digambarkan oleh Bram Stoker dalam bukunya, dia adalah makhluk kejam penyula rakyatnya. Pada waktu itu dia membantai lebih dari 10 ribu orang muslim, oleh karena itu dia diburu oleh Sultan Mehmed II. Akhirnya dia dipenggal di Danau Snagov. Jasadnya dikuburkan disana tetapi kepalanya di bawa ke Turki, setelah diteliti ternyata jenazahnya tidak ada.
5. Muhammad Al-Fatih
Sultan Mehmed II nama aslinya adalah Muhammad Al-Fatih, dia menjadi Sultan Turki dan berhasil menaklukan Konstantinopel lewat aksinya yang sangat terkenal yang dikenal sebagai “Kapal yang Berlayar di Daratan” pada waktu itu dia memerintahkan prajurit untuk memindahkan kapalnya melewati gurun. Dia pula orang yang bermasalah dengan Dracula.
6. Baldwin IV
Baldwin IV (1161-16 Maret 1185), dengan julukan Kusta atau Lepra, anak Amalric I dari Yerusalem. Istri pertamanya, Agnes dari Courtenay, menjadi raja Yerusalem 1174-1185. Baldwin lahir di Yerussalem, separuh hidupnya dia jalani menghadapi penyakit lepra, dan pada tahun 1185 akhirnya dia meninggal karena penyakit yang di deritanya itu.

Kisah Nyata Bunuh Diri Massal Di Dunia

Kisah nyata berikut ini, bagaimanapun, banyak diisi dengan kematian dan darah, hal ini benar-benar terjadi. Meskipun sering brutal dan tidak masuk akal, ritual bunuh diri adalah nyata dan telah terjadi sepanjang sejarah. Motif di balik bunuh diri massal bervariasi. Pada zaman kuno dan selama Abad Kegelapan menjadi umum untuk suatu kelompok orang melakukan bunuh diri untuk menghindari penaklukan terhadap musuh yang menyerbu, sementara dalam ritual bunuh diri beberapa abad terakhir, telah terlihat dalam cabang agama yang mengikuti ibadat dari okultisme.
Order of the Solar Temple, Swiss & Kanada
Ordo Kuil Matahari, berkantor pusat di Swiss dan beroperasi juga di Kanada, adalah masyarakat rahasia yang percaya pada keberadaan lanjutan dari Ksatria Templar. Tujuan mereka adalah untuk membangun pengertian yang benar dari otoritas dan kekuasaan di dunia, untuk mempersiapkan bagi Kedatangan Kedua Yesus, dan untuk mempersatukan agama Kristen dan Islam. Kegiatan mereka termasuk campuran dari Kristen Protestan awal dan filosofi New Age. Sahabat anehdidunia.com selama bertahun-tahun, pembunuhan dan bunuh diri telah dikaitkan dengan sekte atau aliran ini, termasuk pembunuhan di Kanada tahun 1994, seorang anak berusia 3 bulan, secara ritual dikorbankan karena ia diidentifikasi sebagai Anti-Kristus/dajjal. Kemudian pada bulan Oktober tahun yang sama, 48 orang dewasa dan anak-anak ditemukan tewas bunuh diri secara massal, dengan luka tembak di kepala, di sebuah kapel bawah tanah di Swiss dan ditemukan berjajar dengan item simbolisme Templar

Harakiri/Seppuku, Jepang

www.anehdidunia.com
Sebuah tradisi nyata yang melibatkan darah dan nyali datang dalam bentuk ritual bunuh diri Jepang, yang dikenal sebagai Seppuku atau Harakiri. Sebagai bagian dari kode kehormatan Samurai Bushido, bunuh diri dipraktekkan untuk mempertahankan kehormatan atau mengurangi rasa malu. Individu akan mengambil pedang pendek dikenal sebagai tanto dan menghunjamkannya ke dalam perutnya, membuat tusukan yang mengeluarkan isi perut dengan menyakitkan dan mematikan. Terakhir, untuk memastikan kematiannya, asisten Samurai itu akan memenggal kepalanya. Ini adalah kebiasaan umum selama pertempuran. Dengan cara ini seorang prajurit terhindar dari kematian atau penyiksaan oleh musuh. Cara ini juga digunakan untuk menghukum pelanggaran serius. Meskipun hukuman mati dihapuskan pada tahun 1873, namun praktek Seppuku masih banyak dilakukan hingga abad ini – yang paling dikenal adalah pada akhir Perang Dunia II, dimana tentara tentara jepang dikenal dengan nama Kamikaze menggunakan pesawat pesawat yang membawa bom dan menabrakkannya ke kapal kapal perang sekutu. Juga di waktu yang sama terjadi di pulau Saipan, ketika dikabarkan bahwa sekutu yang akan datang menyerang akan menyiksa dan membunuh semua penduduk disana, sebagian besar penduduk melakukan bunuh diri dengan menerjunkan diri mereka dari tebing yang ada disana. Semua itu dilakukan untuk menghindari penaklukan. Kemudian, pada tahun 1970 sebuah kelompok pemberontak melakukan Seppuku di depan publik di markas Pasukan Bela Diri Jepang Pasukan setelah gagal melakukan sebuah upaya kudeta.

Sicarii Rebels, Masada, Israel

www.anehdidunia.com
Pada tahun 60 Masehi, saat tombak dan catapult adalah senjata perang, penaklukan Romawi di Yudea memaksa 960 yahudi fanatik untuk berpindah dan kemudian membuat barikade di benteng Raja Herodes. Benteng, dibangun di atas dataran tinggi berbatu di Gurun Yudea, yang sampai saat ini puing puingnya masih ada. Kelompok ini tinggal di sana selama setengah dekade, membangun pemukiman dan perlahan-lahan berkembang, sampai pengepungan Romawi tahun 72 M, ketika Kaisar Flavius ​​Lucius Silvius menugaskan untuk membombardir dinding benteng dan menangkap para pemberontak. Dia tidak tahu bahwa pada akhir pembombardiran, hanya bangunan dan mayat busuk dari mereka yang memilih mati daripada menyerah yang ditemukan para prajuritnya. Hanya dua perempuan dan lima anak-anak selamat untuk menceritakan kisah tentang bagaimana mereka mati – diringkas dalam kata-kata pemimpin fanatik, Eleazar ben Yair, dalam pidato terakhirnya: “Biarkan istri istri kita, kita bunuh sebelum mereka disalahgunakan, dan anak-anak kita, kita bunuh sebelum mereka merasakan perbudakan, dan setelah kita membunuh mereka, mari kita saling melakukan hal yang mulia satu sama lain saling … ”

Jauhar, Rajput, India

www.anehdidunia.com
Sebuah cerita yang mirip terurai di kedalaman India. Jauhar adalah praktek bunuh diri massal perempuan yang terjadi di kerajaan Rajput yang diserang dinasti Mughal, sehingga wanita wanita Rajput terhindar dari penangkapan yang mencemarkan di tangan musuh. Pada abad ke-14, Rani Padmini, ratu Chittor, memimpin semua wanita kerajaan dan anak-anak mereka untuk melompat ke api unggun dalam rangka untuk melindungi diri dari nafsu tentara Sultan Delhi. Sahabat anehdidunia.com sementara para wanita dan anak-anak melakukan bakar diri, para laki-laki dewasa (ayah, suami dan anak) menghadapi para penyerang, sampai mati. Sebuah praktek yang dimaksudkan untuk melindungi kehormatan kedua jenis kelamin. Jauhar kedua dan ketiga terjadi di Chittor selama abad ke-16 (1535 dan 1568), yang menjadi pemusnahan seluruh garis keturunan Rajput.

Pembakaran Diri, Vietnam

www.anehdidunia.com
Ritual bunuh diri tidak selalu terhubung dengan penawaran supranatural atau logika anggota Bala Keselamatan seperti yang sering terjadi pada zaman sekarang. Dalam kasus biksu Buddha yang melakukan ritual bunuh diri tahun enam puluhan, adalah suatu tanda protes terhadap Perang Vietnam. Thich Quang Duc membakar dirinya tanpa takut mati di jalan Saigon yang sibuk pada tahun 1963 untuk memprotes penganiayaan umat Buddha oleh pemerintah Vietnam Selatan. Meskipun dihormati sebagai seorang Bodhisattva (makhluk yang telah mencapai Nirvana) oleh masyarakat di dunia Buddhis, pemerintah menolak aksi itu dengan melanjutkan penghukuman terhadap para biarawan biarawan lainnya, yang membuat banyak dari mereka mengikuti contoh Thich Quang Duc dengan melakukan bakar diri di tempat umum. Meskipun menyakiti diri dilarang dalam agama Buddha, bakar diri dianggap sebagai tindakan tanpa pamrih oleh para biarawan – suatu tindakan yang menyebarkan cahaya Dharma dan membuka mata orang-orang di sekitar mereka.

Heaven’s Gate, San Diego, California

www.anehdidunia.com
Entri berikut ini adalah kisah mengerikan yang nyata dari sebuah keinginan untuk bertemu UFO. Bagi sekte Gerbang Surga 1970, kepercayaan mereka adalah kombinasi dari ide-ide Kristen tentang kiamat dan unsur-unsur fiksi ilmiah, yaitu bahwa planet Bumi akan dibersihkan oleh kekuatan-kekuatan supernatural, dan satu-satunya jalan menuju keselamatan adalah melarikan diri ke “Next Level”. Menurut pendirinya Marshall Applewhite, melarikan diri ini dapat dicapai melalui eksistensi bertapa, yang berarti lepas dari keluarga, teman, pekerjaan, harta benda dan jebakan jebakan keberadaan dunia modern lainnya. Pada tahun 1997, Applewhite mengumumkan rute jalur tercepat ke Tingkat Berikutnya: naik ke sebuah pesawat ruang angkasa yang membuntuti komet Hale-Bopp. Pada tanggal 26 Maret, ketika komet itu melintas dekat bumi, Applewhite dan 38 pengikutnya melakukan bunuh diri dalam rangka untuk meninggalkan bentuk terestrial mereka dan mendapatkan akses ke UFO.

The Branch Davidian Seventh-Day Adventists, Waco, Texas

www.anehdidunia.com
The “Branch” adalah sebuah sekte Protestan lahir pada tahun 1959 selama skisma dengan Gereja Advent Hari Ketujuh, ketika Florence Houteff mengumumkan Kedatangan Yesus kedua di puncak sebuah bukit di Texas. Setelah kegagalan nubuat ini, sejumlah “nabi” mengambil mengambil alih kepemimpinan, yang paling menonjol adalah Vernon Howell (kemudian berganti nama menjadi David Koresh), yang mendoktrinasi kelompoknya untuk percaya bahwa dirinyalah yang memiliki tanggung jawab dan otorisasi untuk kenabian dan mendirikan “House of David “. Pada tahun 1994, setelah tuduhan kepemilikan senjata api ilegal dan pelecehan anak, ATF memperoleh surat perintah untuk menggeledah tempat sekte ini; tetapi strategi ofensif mereka bertemu dengan barikade dan tembakan. Setelah beberapa hari pertempuran, FBI takut terjadinya bunuh diri massal dan mencoba menyudutkan para pengikut sekte ini dengan gas air mata. Namun senyawa ini dibakar dari dalam, dan membunuh 80 orang. Apakah ini bunuh diri massal atau FBI menutup-nutupi sesuatu? sampai sekarang masih dalam perdebatan.

Movement for the Restoration of Ten Commandments (MRTC), Uganda

www.anehdidunia.com
Para MRTC itu merupakan cabang Katolik apokaliptik didirikan pada tahun 1980 setelah mengaku menerima visi Perawan Maria, pemimpin MRTC memerintahkan ketaatan yang ketat kepada Sepuluh Perintah Allah. Para anggota sekte berbicara sangat sedikit dan kadang-kadang menggunakan bahasa isyarat sesama mereka.Mereka dilarang untuk berzinah, dan mereka menerapkan dwi-mingguan puasa. Dan ketika ramalan pemimpin mereka tentang kiamat semakin mendekat, pengakuan dosa harian sangat didorong, sell-off of possessions ditegakkan, dan bekerja di ladang berhenti. Namun, ketika ‘Judgment Day’ gagal terjadi, para pengikut mulai mempertanyakan keaslian pemimpin mereka, dan sehingga hari kiamat kedua diumumkan 17 Maret, dimana semua pengikut 1.000, orang dewasa dan anak-anak diundang untuk merayakan keselamatan mereka. Sedikit dari mereka yang tahu, bahwa ini akan berujung pada pengorbanan diri dan keracunan.

People’s Temple Jonestown Massacre, Guyana

www.anehdidunia.com
Peoples Temple, yang aslinya dibentuk sebagai Sayap Kebebasan pada 1954, adalah sebuah organisasi keagamaan yang didirikan pada 1955 oleh Pendeta James Warren Jones (Jim Jones). Pada 1960 organisasi ini berafiliasi dengan denominasi Protestan, Murid-murid Kristus. Afiliasi ini merupakan upaya yang berhasil untuk meningkatkan keanggotaan kelompok ini yang makin berkurang dan memulihkan reputasinya. Peoples Temple dikenal karena bunuh diri massal yang terjadi di Jonestown, Guyana, pada 18 November 1978.

Jones mendirikan Peoples Temple di Indianapolis, Indiana pada 1950-an. Mulai tahun 1965, Jones dan jemaatnya pindah ke Redwood Valley, California. Gereja Redwood Valley resminya dibuka pada 1969. Setelah Jones mulai serangkaian rekrutmen di San Francisco dan Los Angeles keanggotaan di Peoples Temple meningkat dari sekitar 700 pada 1970 hingga 2.200 pada 1972. Jumlah tertinggi dari anggota Peoples Temple yang sesungguhnya adalah sekitar 3.000 orang, meskipun kelompok ini seringkali membesar-besarkan angkanya.

Jones dan gerejanya memperoleh reputasi karena membantu warga kota yang paling miskin, khususnya kaum minoritas rasial, para pecandu obat biuas dan kaum tuna wisma. Dapur-dapur makanan, pusat-pusat asuhan, dan klinik-klinik medis untuk orang-orang lanjut usia didirikan, bersama-sama dengan program-program konseling untuk para pelacur dan pecandu obat bius yang ingin mengubah hidupnya. Peoples Temple membangun hubungan yang kuat dengan sistem kesejahteraan negara bagian California. Pada 1970-an, Peoples Temple memiliki dan mengelola sekurang-kurangnya 9 panti jompo, enam rumah untuk anak-anak asuh, dan sebuah tanah peternakan seluas 40 acre untuk orang-orang yang cacat mental. Mereka mempunyai program bantuan bea siswa dan asrama di Santa Rosa Junior College. Para pemimpin Peoples Temple menangani klaim-klaim asuransi para anggotanya serta masalah-masalah hukum mereka, dan berperan sebagai kelompok advokasi bagi para klien mereka. Karena alasan-alasan ini, sosiolog John Hall menggambarkan Peoples Temple sebagai sebuah “birokrasi karismatis”, yang berorientasi kepada Jones sebagai pemimpin karismatis, namun berfungsi sebagai sebuah organisasi biroraksi pelayanan sosial.

Meskipun sebagian gambaran tentang Peoples Temple menekankan kontrol otokratis Jones atas para pengikutnya, pada kenyataannya, organisasi ini mempunyai struktur kepemimpinan yang kompleks, dengan kekuasaan pengambilan keputusan yang menyebar secara tidak merata di antara anggota-anggotanya. Di pusatnya, Peoples Temple dipimpin oleh Jones dan orang-orang dekatnya, tetapi anggota-anggota dari Komisi Perencanaan juga mempunyai banyak kekuasaan. Komisi Perencanaan (termasuk sekitar 100 orang anggota) bertanggung jawab untuk operasi Peoples Temple sehari-hari.

Kontroversi
Beberapa laporan yang mengganggu mulai muncul ketika segelintir anggota mulai meninggalkan kelompok ini. Dilaporkan bahwa Jones mencuri dari anggota-anggotanya, memalsukan penyembuhan-penyembuhan ilahi, menghukum anggota-anggotanya dengan keras, mempraktikkan sodomi, dan menganggap dirinya sebagai Mesias yang baru.

Saat itu, para wartawan, penegak hukum, dan politikus memperlihatkan minatnya pada Peoples Temple. Jones bereaksi dengan banyak pidato yang penuh kemarahan kepada para pengikutnya, yang isinya klaim-klaim bahwa para pembelotnya itu berdusta, dan bahwa dunia luar sedang berusaha menghancurkan mereka. Pada saat yang sama, sejumlah anggotanya yang kian bertambah melaporkan pelecehan di lingkungan Peoples Temple. Para sanak keluarga anggotanya juga menekankan bahwa anggota-anggota kelompok itu dipaksa untuk tidak keluar, meskipun mereka sendiri sesungguhnya tidak mau.

Pindah ke Guyana
Jones bereaksi kepada penyelidikan yang kian meningkat dengan memindahkan para pengikutnya yang terdiri dari lebih dari 900 orang ke Guyana. Para pengikutnya ini dijanjikan sebuah surga tropis, yang bebas dari apa yang digambarkan sebagai dunia luar yang kejam, namun ketika mereka tiba, mereka dipaksa bekerja atas perintah-perintah Jones, dan bersama-sama mereka membangun Jonestown.

Kunjungan oleh anggota Kongres Ryan
Pada November 1978, kelompok ini dikunjungi di Jonestown oleh Leo Ryan, seorang anggota Kongres AS dari San Francisco, California, yang melakukan penyelidikan tentang klaim-klaim pelecehan di dalam kelompok ini. Pada kunjungan ini, sejumlah anggota Peoples Temple mengungkapkan keinginan mereka untuk ikut bersamanya meninggalkan Guyana. Karena itu seluruh kelompok ini kemudian ikut bersamanya ke lapangan terbang setempat. Di sana para anggota keamanan Kenisah menembaki kelompok ini, membunuh anggota Kongres Ryan, tiga orang wartawan dan seorang anggota Peoples Temple yang ingin pergi. Penembakan-penembakan ini direkam dalam film oleh salah seorang wartawan yang tewas dalam serangan itu.

Pembantaian Jonestown
Keesokan harinya, Jones memerintahkan jemaatnya untuk meminum Kool Aid dan Flavor Aid yang diberi sianida. Bunuh diri massal ini dikenal sebagai pembantaian Jonestown. Mereka yang menolak untuk melakukan bunuh diri ditembak, atau disuntik dengan sianida. Jones ditemukan dengan sebuah luka tembak di kepalanya. Berdasarkan investigasi, tubuhnya mengandung obat-obat bius dalam dosis yang tinggi. Total 913 orang yang tewas, termasuk 276 anak-anak

Suku Terasing di Pedalaman Pulau Halmahera

orang-suku-tugutil-halmahera-foto-disbudpar-haltim2Bila mendengar kata “TOGUTIL”, maka bayangan yang muncul dalam pikiran semua orang di Ternate dan Maluku Utara pasti akan tertuju pada komunitas suku terasing yang hidup secara nomaden di pedalaman pulau Halmahera. Tapi mungkin lain halnya dengan masyarakat di luar provinsi muda ini, misalnya orang-orang di Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Sumatera dsb, nama suku Togutil mungkin baru kali ini didengarnya. Bagi orang Ternate, kata “Togutil” sebagai sebuah istilah, itu identik dengan makna kata “primitif”, “keterbelakangan”, “kebodohan” “ketertinggalan” serta masih banyak lagi konotasi-konotasi yang bermakna serupa lainnya.

Dalam keseharian kehidupan masyarakat di Maluku Utara yang hingga sekarang ini juga telah memasuki era digital sebagaimana orang-orang di pulau Jawa, namun ternyata masih ada saudara-saudaranya yang ada di pedalaman pulau Halmahera yang hidupnya masih primitif dan terbelakang serta jauh dari sentuhan modernisasi. Padahal negara ini sudah merdeka lebih dari 60 tahun yang lalu.

Suku Togutil adalah suku asli yang terasing di negerinya sendiri. Hal seperti ini juga pernah dikemukakan oleh Pengamat Budaya Djoko Su’ud Sukahar dalam tulisannya; Suku Asing & Terasing, detikNews, tanggal 21 Agustus 2008 yang menyentil bahwa; “Enampuluh tiga tahun sudah kita merdeka. Kemerdekaan yang panjang itu masih menyisakan penyesalan. Tak hanya karena taraf hidup rakyat yang tak kunjung membaik, tapi juga masih banyaknya saudara kita yang hidup terasing. Mereka asing bagi kita, dan kita asing bagi mereka, seperti orang-orang Suku Togutil yang hidup di pedalaman pulau Halmahera”. Walaupun mereka masih primitif karena pola hidup secara nomaden tanpa merobah dan merusak alam, namun keberadaan mereka seperti itu telah memberikan pelajaran berharga kepada kita semua dalam hal melestarikan hutan. Seakan-akan mereka berpesan; janganlah sekali-kali merusak alam.

Seperti yang pernah saya jelaskan dalam artikel-artikel pada posting sebelumnya bahwa pada zaman Pleistochen pulau Halmahera masih menyatu dengan pulau-pulau kecil lainnya yang ada saat ini, seperti pulau; Morotai, Hiri, Ternate, Maitara, Tidore, Mare, Moti, Makian, Kayoa, Bacan, Gebe dan sebagainya. Perubahan alam yang terjadi selama ratusan ribu tahun dan pergeseran kulit bumi secara evolusi telah membentuk pulau-pulau kecil. Halmahera adalah merupakan pulau induk di kawasan ini, dan merupakan dataran tertua, selain pulau Seram di Maluku Tengah.

Secara logis, karena pulau Halmahera adalah pulau induk dan daratan tertua, maka dapat dipastikan bahwa perkembangan kehidupan dan persebaran “manusia Maluku Utara” juga tentu bermula dari daratan ini. Namun bukan itu yang menjadi bahasan saya dalam tulisan ini. Pembahasan hanya terfokus pada keberadaan sebuah komunitas yakni orang-orang suku Togutil yang masih tersisa yang mengalami ketertinggalan dalam perkembangan sosio-kultural yang disebabkan karena mereka terisolasi atau mengisolasikan diri dari pergaulan dengan lingkungan manusia lainnya. Hidup mereka telah menyatu dengan alam sehingga hutan rimba, sungai-sungai dan goa-goa di belantara pedalaman pulau Halmahera menjadi rumah mereka.

Disadari atau tidak, sebagian orang bisa menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut di atas menunjukkan bahwa manusia Maluku Utara yang sudah modern dan maju seperti sekarang ini dahulunya adalah juga seperti “orang Togutil” ini.

Bila kita bijak, maka hal ini tidak lantas begitu saja langsung dibantah, karena jika kita mempelajari “Ilmu Anthropologi” maka pasti kita memahami bahwa setiap bangsa atau suku mana saja di muka bumi ini dalam perjalanannya pasti mengalami tahap-tahap perkembangan yang demikian. Misalnya bangsa Kaukasoid (orang Eropa) yang lebih dahulu maju dan telah menjadi manusia modern seperti sekarang ini, dahulunya juga adalah suku primitif (Vicking) yang kehidupannya masih tergantung dengan pemberian alam (Nomad) seperti orang Tugutil ini.

Kembali kepada pembicaraan kita tentang “Suku Togutil”… Catatan ilmiah tentang suku ini, pertama kali dikemukakan tahun 1929 yang berbentuk sebuah artikel pendek yang terdapat dalam buku; “De Ternate Archipel” Serie Q, No.43 Ontleedn aan de memorie van overgave van den toenmaligen Controleur van Tobelo, PJM Baden, van 26 Maret 1929, pag 401-404.

orang-togutil-menari-cakalele-di-pedalaman-buli-halmahera-tengah-foto-oleh-malik-abdullatif-geomin-aneka-tambang-buli1Saat ini banyak keterangan-keterangan dari berbagai pihak dan masyarakat tentang orang-orang suku Togutil ini sangat berbeda dan simpang siur antara satu dengan yang lainnya. Semua itu benar, karena mereka tahu dan melihat dalam kurun waktu dan ruang yang berbeda sehingga deskripsi yang lahir tentang suku Togutil ini pun berbeda pula.

Di pedalaman pulau Halmahera, komunitas suku pengembara ini ditemui di beberapa kawasan. Di utara masih terdapat di pedalaman Tobelo, di tengah seperti terdapat di Dodaga, di pedalaman Kao, di pedalaman Wasilei dan agak ke selatan juga terdapat beberapa komunitas mereka di pedalaman Maba dan Buli. Setiap komunitas (kelompok) suku primitif ini berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bahkan mereka saling berperang bila bertemu.

Namun demikian, bagi masyarakat Maluku Utara, masing-masing kelompok orang-orang Tugutil ini, semuanya disebut sebagai “Suku Togutil” saja. Yang membedakan sebutan terhadap mereka adalah kawasan yang menjadi tempat pengembaraan mereka, misalnya Togutil Tobelo, Togutil Kao, Togutil Dodaga, Togutil Wasilei, Togutil Maba, dsb.

Usaha pemukiman terhadap masyarakat terasing merupakan program utama pemerintah dalam usaha membiasakan mereka hidup menetap dan bercocok tanam (bertani). Menetap dengan pengharapan dapat meningkatkan kesejahteraan fisik dan rohani. Usaha ini dimaksudkan agar mereka dapat secepatnya mencapai taraf hidup yang sejajar dengan masyarakat Indonesia umumnya.

Atas pemikiran inilah, Pemerintah daerah di Maluku Utara pada tahun 1971 pernah membangun pemukiman (relokasi) untuk orang-orang suku Togutil Dodaga di kecamatan Wasilei Halmahera Tengah. Yang dimaksud dengan orang-orang Togutil Dodaga adalah sekelompok orang suku Togutil yang berdiam di sekitar hutan dekat Dodaga. Penambahan kata Dodaga di belakang nama golongan etnis ini adalah agar dengan mudah dapat membedakannya dengan orang-orang suku Togutil lain yang terdapat di kecamatan Wasilei, maupun di kecamatan-kecamatan lain di pedalaman pulau Halmahera.

Beberapa saat setelah suku Togutil Dodaga ini bermukim di tempat relokasi yang dibangun pemerintah, mereka kembali lagi ke hutan dan hidup lagi menurut cara yang lama. Peristiwa tersebut menimbulkan pertanyaan, apa sebab usaha ini gagal, sedangkan usaha-usaha serupa berhasil di tempat lain, seperti suku Naulu di pulau Seram, orang Dayak Bukit di Kalimantan, suku Sakai di Sumatera dsb.

Masyarakat di Desa-Desa sekitar mengatakan bahwa orang-orang Togutil ketika musim hujan tiba, merasa terganggu dengan suara bising air hujan yang jatuh, karena atap tidak terbuat dari dedaunan sehingga mereka ketakutan dan lari kembali lagi ke hutan. Alasan lain mungkin karena mereka tidak terbiasa dengan ”sandang” dan “pangan” ala kita.

MASALAH RELOKASI SUKU TOGUTIL DI WASILEI

Gambaran rinci tentang pemukiman, asal-usul dan kehidupan suku Togutil di pedalaman pulau Halmahera ini sama sekali belum diketahui oleh dunia pengetahuan kita. Oleh karena itu sangatlah sukar untuk memperoleh keterangan yang terperinci dan terpercaya dari laporan-laporan yang ada tentang Halmahera tanpa melakukan sendiri penelitian di lapangan.

Walaupun demikian, pada sekitar tahun 1979, Universitas Pattimura Ambon pernah melakukan penelitian lapangan yang bersifat Eksplorasi melalui pendekatan Anthropologi Sosial terhadap suku Togutil di pedalaman Tobelo untuk mencari jawaban atas kegagalan usaha pemukiman suku terasing ini, yang laporan penelitiannya ditulis oleh Mus J. Huliselan yakni; Masalah Pemukiman Kembali Suku Bangsa Togutil di Kecamatan Wasilei Halmahera Tengah Sebuah Laporan Pejajagan, Universitas Patimura, Ambon, 1980.

suku-tugutil-di-buli-foto-oleh-malik-abdullatif-geomin-aneka-tambang-buli-halmaheraSaya mengutip beberapa point hasil penelitian tersebut, yang menyebutkan bahwa; Menurut hasil penelitian ini, jika dilihat dari sistem pemukiman orang-orang Togutil Wasilei dapat dibagi atas 3 kelompok, yaitu :
1. Mereka yang mengembara di hutan-hutan dengan goa-goa dengan rumah-rumah darurat sebagai tempat bernaung.
2. Mereka yang berpindah-pindah dalam lokasi tertentu dengan sistem perumahan yang sudah teratur (di Toboino dan Tutuling).
3. Mereka yang menetap pada suatu lokasi dengan pola pemukiman yang telah teratur (di Paraino).

Penelitian ini dilakukan terhadap kelompok kedua dan ketiga. Kelompok pertama adalah pengembara yang dinamai oleh kelompok kedua dan ketiga serta penduduk kecamatan Wasilei sebagai “Orang Biri-Biri”. Mereka ini sukar ditemui dan kecurigaan mereka terhadap orang luar sangat besar.

Orang Biri-Biri hidup selalu bermusuhan dengan orang-orang Togutil Dodaga (kelompok kedua dan ketiga). Setiap pertemuan antar kedua golongan ini pasti diselesaikan dengan perkelahian. Kelompok kedua dan ketiga menganggap masing-masing seketurunan atau segolongan, sedangkan kedua golongan ini sama sekali tidak mengakui orang Biri-Biri sebagai orang yang segolongan dengan mereka.

Orang Togutil Dodaga sebagai salah satu sub-suku Tobelo Dalam, bermukim pada 3 lokasi yang dipilih oleh mereka sendiri di dekat Dodaga, sekitar 30 km dari ibukota Kecamatan Wasilei (Lolobata). Sebagian dari mereka adalah orang suku Togutil yang pernah dimukimkan pada tahun 1971. Ketiga lokasi tersebut adalah; Paraino, Toboino dan Tutuling seperti yang sebutkan dalam hasil penelitian di atas. Orang Togutil Dodaga berasal dari dua tempat, yaitu :
1. Daerah Kao , yakni dari Biang, Gamlaha & Kao sendiri.
2. Daerah Tobelo, yakni dari Kupa-kupa, Ufa & Efi-efi.

Dilihat dari bahasa yang digunakan sesuai hasil penelitian, kelihatannya lebih besar pengaruh bahasa Tobelo Boeng terhadap suku ini. Orang Togutil Dodaga sebagian besar berasal dari daerah Kao. Mereka hanya menguasai dan mengerti satu bahasa yaitu bahasa Tobelo walaupun mereka sejak lama bertempat tinggal di lingkungan yang mayoritas berbahasa Maba.

Orang-orang Togutil Dodaga telah menutup dirinya untuk berhubungan dengan dunia luar sampai kira-kira tahun 1961, setelah itu baru terdapat kontak antar mereka dengan penduduk lain di sekitar Halmahera bagian tengah. Sifat ketertutupan ini dapat dimengerti karena mereka adalah pelarian.

Perpindahan nenek moyang suku Togutil Dodaga dari daerah asalnya adalah karena menghindari kewajiban pembayaran Balahitongi (Pajak) yang dikenakan oleh Pemerintah Hindia Belanda jaman dahulu kepada nenek moyang mereka. Kapan dan bagaimana prosesnya berlangsung tidak diketahui secara pasti.

Dalam buku “De Ternate Archipel” (1929, hal 401-402) secara jelas dikemukakan bahwa; Pada tahun 1927 untuk pertama kalinya orang-orang Togutil dikenakan Balasting (pajak) sebesar 1,20 Gulden oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dan sejak tahun 1929 setiap tahun ditambah dengan 0,20 Gulden. Apabila kedua keterangan ini dibandingkan, maka dapat dikemukakan dua argument, yakni :
1. Apabila benar bahwa yang melakukan migrasi ke hurtan rimba Dodaga adalah orang-orang Togutil, maka mereka baru melakukan hal itu sesudah tahun 1927 karena adanya pungutan Balasting.
2. Tapi apabila yang melakukan migrasi itu adalah orang-orang Tobelo yang melarikan diri karena Balasting, maka migrasi itu telah dilakukan jauh sebelum tahun 1927.

Dengan demikian sulit dibedakan apakah orang Togutil Dodaga adalah orang-orang Tobelo (Boeng) atau orang-orang Togutil asli. Sampai saat ini tidak ada satu keteranganpun yang memberi petunjuk jelas tentang perbedaan tersebut. Dan rupanya, hingga saat ini pengertian “Orang Togutil” selama ini telah dipakai untuk penamaan semua orang pengembara yang hidup di hutan pedalaman pulau Halmahera di Maluku Utara.

Para peneliti dari Universitas Patimura yang melakukan penelitian tersebut, menyimpulkan bahwa adanya penolakan orang-orang Togutil Dodaga untuk menerima anggapan bahwa mereka termasuk suku bangsa Togutil dan bahklan mereka menunjuk orang lain (orang Biri-biri) sebagai orang Togutil, hal ini mungkin sesuai kenyataan bahwa mereka itu adalah orang-orang Tobelo (Boeng) yang dahulu melarikan diri ke hutan. Kenyataan ini ditunjang oleh penunjukan tempat asal mereka yaitu pada Desa-Desa asal Tobelo dan Kao yang bukan tempat kediaman suku Togutil asli.

Dengan demikian, maka pasti timbul pertanyaan; Siapa sebenarnya suku Togutil itu..? Meskipun persoalan ini belum dapat terpecahkan hingga saat ini orang mengenal Suku Togutil di pedalaman hutan Halmahera ada dua, yaitu; 1) Orang Togutil Dodaga yang sudah bisa diajak relokasi oleh Pemerintah dan 2) Orang Togutil Asli yang masih hidup di hutan pedalaman yang masih menggunakan pola hidup dan ketergantungan hidup dari pemberian alam (nomaden) dan belum mengenal sistem bercocok tanam serta kehidupan yang belum tersentuh oleh dunia luar.

HUTAN SUNGAI & GOA SEBAGAI RUMAH SUKU TOGUTIL

Orang suku Togutil ada yang bermukim di daerah pantai namun sebagian besar berada di hutan pedalaman yang ada sungai yang menjadi sumber kehidupan mereka. Mereka tidak mengenal sistem pemerintahan dan kekuasaan yang mengikat. Mereka juga tidak mengenal sistem bercocok taman dan pemukiman. Kebanyakan dari mereka mengembara di hutan-hutan tertentu dengan gua-gua atau rumah darurat sebagai tempat bernaung yang dianggap dunianya. Mereka hidup bergantung pada alam. Dalam berpakaian, mereka masih menggunakan “cawat” yang terbuat dari daun dan kulit kayu, tanpa mengenakan baju.

Orang-orang suku Togutil asli yang hidup di tengah rimba Halmahera kerap dihujani prasangka; terbelakang dan membenci orang asing. Mereka menggunakan anjing sebagai tindakan awal untuk menghalau jika ada orang asing memasuki wilayah mereka.

Karena hutan adalah rumah bagi orang-orang suku Togutil, maka pohon dianggap sebagai sumber kelahiran generasi baru. Di samping pelekatan unsur magis tersebut, pohon juga bisa menjadi simbol kelahiran (reproduksi genetika). Saya mengutip beberapa catatan pada hasil Lomba YPHL (2008) dengan topik; Pohon Sebagai Simbol Kelahiran, Mempertimbangkan Pemahaman Lokal tentang Pohon dalam Upaya Pemulihan Kerusakan Hutan, yang ditulis oleh Anthon Ngarbingan dalamhttp://www.kabarindonesia.com tanggal 31 Oktober 2008, mengemukakan bahwa ada beberapa kelompok masyarakat seperti suku Togutil di daerah Baborino, Buli, Halmahera Timur – Provinsi Maluku Utara, yang menggunakan pohon sebagai lambang kelahiran seorang bayi di tengah-tengah keluarga. Ketika seorang bayi lahir, maka salah satu anggota keluarga harus menanam satu pohon, yang menyimbolkan hadirnya generasi baru di tengah-tengah keluarga.

Hal-hal seperti ini yang menyebabkan orang-orang Togutil bisa bertahan dalam hutan, dengan tanpa harus merusak hutan. Padahal, pola hidup mereka berpindah-pindah tempat. Praktek semacam ini juga dilakukan oleh beberapa keluarga yang tinggal di Tobelo, Halmahera Utara. Mereka sering menanam satu buah pohon sebagai simbol kehadiran seorang bayi ditengah-tengah keluarga.

Orang-orang Togutil menganggap bahwa kaitan antara anak yang dilahirkan dengan pohon yang ditanam adalah kehidupan mereka sebenarnya akan juga seperti pohon itu, dengan mana akan tumbuh besar dan menghasilkan sesuatu yang bisa berguna bagi semua orang.

Orang-orang suku Togutil sampai saat ini belum mengenal sistem bertani, sistem mata pencaharian mereka adalah mengumpulkan hasil hutan dan berburu dalam jangka waktu tertentu, kemudian hasil yang didapat dimakan bersama. Selama bahan makanan masih ada, para anggota keluarga luas tidak melakukan kegiatan mencari makan. Mereka akan kembali melakukan pengumpulan makanan dan berburu apabila cadangan makanan hampir habis. Orang suku Togutil biasanya mendapatkan makanan langsung dari pohonnya, seperti; buah-buahan dan umbi-umbian.

Cara berburu suku Tugutil adalah berkelompok (semua orang laki-laki dari anggota keluarga luas) dengan menggunakan anjing. Alat-alat berburu yang digunakan adalah tombak, parang dan panah disertai tuba (racun). Dalam usaha menagkap buruan,mereka juga mengenal penggunaan jerat. Orang-orang Togutil mahir membuat jerat dari seutas rotan dan tanaman muda yang lentur melengkung untuk menjerat. Jenis binatang yang diburu adalah babi, rusa, ayam hutan, burung, kuskus, ular, biawak dan kelelawar.

Orang-orang suku Togutil dalam usaha mengumpulkan makanan, melakukan secara berkelompok, misalnya meramu sagu, atau sendiri-sendiri seperti mengumpul umbi-umbian (Bete, Mangere & Gihuku) dan buah-buahan. Karena mereka berdiam di dekat aliran sungai, maka menangkap ikan juga merupakan mata pencaharian pokok. Seruas bambu disulap jadi panci penanak nasi atau ramuan obat, dan selembar manggar, daun lontar muda dirangkai jadi takir, cangkir alami. Getah damar dari hibum, kenari raksasa sebesar bola tenis, empat kali kenari biasa, bagian kulitnya dipenggal, dibakar, nyalanya seperti lilin penerang malam hari.

wajah-orang-suku-togutilBagi orang-orang suku Togutil, anjing merupakan harta yang paling tinggi. Seorang Togutil tanpa anjing akan lumpuh dalam pekerjaan dan tidak bergairah. Hal ini mungkin karena peranan anjing begitu besar dalam kehidupan seorang Togutil di hutan, baik dalm berbuiru maupun mencari nafkah. Kemanapun orang suku Togutil pergi, ia akan disertai anjingnya. Karena itulah tidak heran bila seekor anjing dapat menimbulkan permasalahan persengketaan antar perorangan maupun antar kelompok yang berujung pada perang kecil. Masalah bunuh-membunuh, keretakan hubungan antar kerabat dan antar kelompok bisa saja dapat timbul akibat seekor anjing.

Informasi lain tentang suku yang nyaris telanjang (berpakaian cawat) ini amat beragam. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (LP3ES, 1996) menyebutnya sebagai “Suku Togutil” yang tinggal di hutan Dodaga dan Tutuling, Kecamatan Wasile, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Menurut Ensiklopedi ini, populasi orang Togutil saat itu 600 orang. Sumber lain menyebutnya “Oho Ngana Manyawa” yang bermakna orang hutan atau orang rimba yang suka membunuh (menghabisil nyawa) orang asing.

Dalam tulisan Christantiowati di Majalah Intisari Edisi September 2008, halaman 124-130 menulis bahwa Rachma Tri Widuri dari lembaga Pelestarian Burung Indonesia, dan Atiti Katango, jagawana dari Taman Nasional (TN) Aketajawe, yang mengantar Tim ini ke tepi Sungai Tayawi, dekat Kampung Kumu, hanya 15 menit bermobil dan Desa Bale, mengemukakan bahwa warga Desa Bale, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara berceritera kepada mereka bahwa orang-orang suku Togutil itu dulu warga yang “lari pajak” (tak mau bayar pajak), jadi lari atau diusir Belanda masuk hutan. Mereka bisa ditemui pula di sekitar Desa Tutur, Tukur, Totodoku, Oboi, Tatam, Lili, Mabulan, dan Baken. Mereka disebut Tobelo Dalam atau Tobelo Hutan, untuk membedakan dari Tobaru, Tobelo Kampung atau yang sudah ke kota.

Suku Togutil yang kita kenal hingga saat ini, suatu saat nanti siapa sangka mungkin hanya tinggal kenangan. Kini populasi suku ini semakin berkurang. Hal ini bisa saja karena kondisi kebiasaan hidup mereka yang tidak teratur yang mengakibatkan jumlah kelahiran tidak sebanding dengan kematian dari anggota suku ini. Hal lain adalah tabiat mereka yang takut melihat manusia lain dan ini menutup kesempatan mereka mendapatkan makanan pada musim sulit sehingga pada akhirnya mempengaruhi perkembangan populasi dan reproduksi genetika mereka. Semoga suku ini tidak mengikuti jejak Suku Moro di Halmahera utara yang hilang misterius (gaib) di abad sebelumnya. Semoga saja “National Geography” berminat melakukan eksplorasi ke tempat ini……!

Satu hal yang paling berharga yang telah ditunjukkan oleh suku Togutil yang kita anggap “kurang” beradab ini telah menjadi pelajaran untuk kita semua, yakni; “Peliharalah alam, lestarikanlah hutan & jangan sekali-kali merusaknya”. Sekali lagi, mereka membuktikan bahwa kita yang merasa diri si “beradab” ini yang harus belajar kearifan dan keramahan dari mereka. Saya yakin anda semua pasti setuju dengan ini…!

Indonesia TIDAK PERNAH Dijajah ??

 

Memang agak panjang sih gan, tapi coba simak dulu, mungkin agan sependapat dengan ane

Semasa sekolah dulu, kita tahu bahwa negara kita dijajah 350 tahun oleh Belanda, 3,5 tahun oleh Jepang, dan 3,5 bulan oleh tentara sekutu melalui Agresi Militer II.

Indonesia menjadi negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Masyarakat awam selalu mengatakan bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Apakah benar Indonesia dijajah 350 tahun? Perlu diingat kembali bahwa Belanda datang di Banten pada tahun 1596.

Sejarahnya demikian, pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck.

Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten.

Belanda membentuk VOC tahun 1602. Belanda membubarkan VOC 31 Desember 1799. Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa.Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke.

Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912). Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia (kecuali Timor Timur yang pada saat itu sudah dikuasai oleh Portugis).

Belanda membentuk Pemerintahan Hindia Belanda tanggal 1 Januari 1800, namun perlu diingat bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.

Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun tersebut), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica (Pax=perdamaian; Neerlandica=daerah kekuasaan Nederland. Pax Neerlandica justru pada akhirnya membuka peluang untuk terciptanya persatuan bangsa Indonesia, karena semua wilayah yang berada dibawahnya kemudian bersatu melawan penjajahan Belanda. Salah satu peristiwa besar yang mempersatukan pemuda Indonesia adalah Kongres Pemuda tahun 1928 yang antara lain menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Saat-saat Akhir Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii dan kemudian menyatakan perang terhadap Hindia Belanda yang merupakan sekutu Amerika.

Berdasarkan fakta sejarah di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun.. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa pada saat itu.

Dan kita jangan lupa bahwa hingga saat ini Aceh menolak sejarah perjuangannya disamakan dengan Jawa karena sampai dengan tahun 1912 Aceh adalah kerajaan yang masih merdeka dan berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja. Kesimpulannya, tidak benar bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda membutuhkan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara dan akhirnya gagal pada tahun 1945.

Justru hal ini mampu melahirkan rasa nasionalisme yang tinggi dan sehat bagi seluruh rakyat Indonesia dimanapun dia berada bahwasanya negaranya, tanah airnya tercinta tidak pernah ditaklukkan dengan mudah oleh siapapun. Mitos 350 tahun itu justru melahirkan perasaan bahwa Indonesia adalah bangsa yang mudah dikuasai dan diperbudak dan hal itu sama sekali tidak benar. Sudah saatnya bangsa Indonesia kembali kepada sumpah pemuda satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Marilah kita kembali ke persatuan, hindarilah perpecahan

Dari berbagai sumber

Hubungan Perang Salib dengan Penjajahan Barat di tanah Melayu

Buku-buku sejarah rasmi dunia mencatatkan penemuan Amerika 1492 oleh Christopher Columbus adalah titik permulaan kuasa-kuasa Barat mula berminat ‘menerokai’ dunia selain Eropah dan wilayah sekeliling yang menjadi medan permainan mereka sejak zaman kegemilangan Yunani 2,500 tahun lalu. Pelayar terkenal Vasco de Gamma pula dicatatkan sebagai orang Eropah pertama menemukan laluan pelayaran ke India 1498 lalu membuka jalan untuk mengenali dunia sebelah Timur melalui laut. Ini adalah natijah daripada pengembaraan Bartholomew Diaz 1488 yang berjaya menemui laluan selamat melepasi Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di penghujung selatan benua Afrika yang terkenal sebagai kawasan bahaya ribut taufan. Warga Eropah pun mula mengenali tamadun-tamadun Islam Timur yang hebat seperti keSultanan Delhi yang menguasai benua Hindi sejak abad ke 13 serta keSultanan Melaka yang menguasai jalan perdagangan Timur-Barat sehingga pusatnya Kota Melaka dikenali sebagai Venice of the East sempena Venice di Italy, kota paling makmur di Eropah zaman itu.


Barat mula berdagang di Nusantara terutama dalam spice trade, perniagaan rempah, satu komoditi penting yang sangat diperlukan di Eropah tetapi dikawal melalui Melaka. Maka muncullah ungkapan terkenal penulis Portugis bernama Barbarosa: “Whoever is Lord in Melaka has his hand on the throat of Venice”. Sesiapa yang memerintah Melaka tangannya mencekak leher Venice. ‘Pos-pos’ perniagaan Barat mula didirikan di lokasi-lokasi penting seperti kota Melaka juga pusat kerajaan Samudera-Pasai… Tidak lama kemudian, Portugis ‘mendapat ilham’ untuk menakluki Goa di India (1510) dan kota Melaka (1511) sebelum ‘bersahabat’ dengan Haru di Sumatera untuk menakluki Pasai (1514)… Semuanya atas alasan untuk menguasai perdagangan dan itulah yang disebut dalam sejarah rasmi dunia.
Sekarang fikirkan… Adakah sejarah yang dikemukakan ini benar dan tepat? Kalau benar Vasco de Gamma adalah orang Eropah pertama menemui jalan ke India, bagaimanakah pemikir purba Yunani, Ptolemy yang diakui sejarahwan Barat sebagai salah seorang ahli falak dan pelukis peta (cartographer) teragung dahulukala boleh bercerita malah melukis sebuah peta purba yang agak lengkap tentang Golden Chersonese iaitu Semenanjung Tanah Melayu lebih 2,000 tahun lalu? Bagaimanakah orang Eropah zaman itu boleh mengenali Semenanjung sebagai bumi kaya-raya penuh emas malah menyatakan Mount Ophir atau Gunung Ledang sebagai sebuah lokasi utama Solomon’s Treasure, harta peninggalan Nabi Sulaiman?


Bagaimana pula tentang Marco Polo, pengembara Barat abad ke 13 dari Venice, Italy yang terkenal dengan kisah pengalamannya merentasi jalan darat the Silk Road atau Jalan Sutera yang menghubungkan Eropah dan Asia sampai ke benua China ketika ia sedang diperintah Kublai Khan (1216-1294), cucu Ghengiz Khan? Bukankah catatannya menyebut beliau pernah sampai dan singgah di Ferlec, ataupun Perlak 1292 melalui jalan laut yang merentasi Laut Cina Selatan dan Selat Melaka? Ketika kerajaan lama Islam itu sudah diserapkan ke bawah pemerintahan keSultanan Samudera-Pasai yang sedang dirajai pengasasnya Sultan Malikus Salih?
Kitab Hikayat Aceh pula menyinggung kedatangan awal Portugis di bumi Serambi Mekah apabila menyebut kisah kerajaan Mahkota Alam berjaya menakluki Darul Kamal menggunakan meriam daripada kapal Barat yang tenggelam di perairannya. Kajian rasmi sejarah menyatakan, ini berlaku semasa Sultan Munawar Shah memerintah 1490-1497, raja yang bertanggungjawab menyatukan kedua-dua kerajaan tersebut untuk membentuk keSultanan Aceh Darussalam. Fikirkanlah. Bagaimanakah kapal Barat itu boleh muncul dan tenggelam di perairan Aceh sedangkan sejarah rasmi dunia mendakwa orang Eropah baru mengenali laluan laut melepasi Afrika ke India melalui pelayaran Vasco de Gamma 1498?
Barat juga nampaknya cuba mewarnakan ‘ekspedisi’ mereka ke Timur sebagai innocent, sekadar demi memenuhi naluri mengembara seterusnya berdagang. Tetapi dengan menggunakan alasan ‘pedagang’ mereka ‘diganggu’ pemerintah tempatan seperti yang pernah terjadi di Melaka, mereka mampu menakluki Goa (1510), Melaka (1511) dan Pasai (1514) dalam tempoh yang singkat. Ini menunjukkan mereka sebenarnya sudah lama merancang untuk menakluki keSultanan-keSultanan Islam di Timur.
Ia adalah taktik jangka-panjang untuk menghancurkan kekuatan umat Islam sejagat yang diterajui Khalifahan Utmaniah di Turki, kuasa ketenteraan yang terhebat di dunia zaman itu. Bukankah sejarah membuktikan, penaklukan kerajaan-kerajaan Islam seluruh dunia yang berjalan lancar abad 17- 19 akhirnya menyaksikan kerajaan Uthmaniyah di Turki terkepung tanpa bantuan? Lalu melututlah ia apabila kalah kepada kuasa gabungan Barat dalam Perang Dunia Pertama (1914-1918). Bukankah kekalahan itu menyebabkan Baitul Muqaddis terus terlepas daripada tangan umat Islam setelah sekian lama? Dan sampai sekarang ia tidak aman akibat penindasan demi penindasan yang dilakukan puak Yahudi Zionis.
Portugis yang merupakan kuasa laut terkuat Eropah abad ke 16 telah diberikan tugas untuk menundukkan Nusantara kerana Yahudi Zionis tahu Hadis Nabi tentang kebangkitan Islam daripada Timur. Tetapi terbukti keSultanan Aceh yang mewarisi peranan Melaka dan Samudera-Pasai amat liat untuk ditundukkan. Kemunculan Sultan Ali Mughayat Shah selepas kejatuhan Melaka 1511 menyaksikan baginda berjaya menyatukan kerajaan-kerajaan kecil yang berpecah-belah di bumi Serambi Mekah lalu menghalau Portugis keluar dari Samudera-Pasai (1524). Seterusnya baginda menakluki Haru supaya penjajah tidak boleh lagi bertapak di Sumatera.
Portugis cuba memperkudakan Johor pula untuk menawan Haru. Sebaliknya mereka dan sekutu Melayu itu telah dihalau keluar lagi malah kedudukan Portugis di Melaka pula tersepit akibat serangan demi serangan tentera Aceh. Selepas lebih seratus tahun mencuba, ternyata kuasa Barat itu tidak dapat memenuhi misi Yahudi Zionis di Timur. ‘Kebetulan’ pula tanah-air mereka di Eropah ditakluki Sepanyol 1580… Maka sampailah masanya untuk Belanda, kuasa laut baru Eropah abad ke 17 menonjolkan diri, kuasa besar yang jauh lebih licik dan kaya dengan tipu-helah sehingga berjaya menggunakan armada tentera Aceh untuk melemahkan kedudukan Portugis di Melaka seterusnya menduduki kota itu 1641.
Cerita ini ada dipanjangkan dalam Jilid 2, bab penutup bertajuk Perang Aceh-Portugis di Melaka1629. Di samping itu, untuk memastikan supaya ancaman Aceh dapat dikekang dan Barat boleh terus mengembangkan sayap, Yahudi Zionis telah merosakkan teras kerohanian rakyat bumi Serambi Mekah melalui konflik akidah seperti dihuraikan dalam bab “Angkara Nuruddin: Mulanya kejatuhan Aceh”. Tidak lama kemudian muncul Inggeris, kuasa terkuat Eropah selepas kekalahan panglima besar Peranchis dalam Perang Waterloo 18 Jun 1815. Selepas berjaya menakluki kebanyakan keSultanan di rantau ini, mereka pun ‘membelah-dua’ lalu memfaraidkan Nusantara melalui Perjanjian Inggeri-Belanda 1824.
Kedua-dua pihak ini diberi peranan tertentu dengan Belanda meningkatkan cengkaman ke atas wilayah-wilayah yang bakal menjadi Republik Indonesia sementara Inggeris ‘mengendalikan’ Singapura dan wilayah-wilayah yang bakal menjadi Malaysia. Sebab itu apabila bumi Serambi Mekah berjaya diduduki Belanda 1873, mereka berusaha bersungguh-sungguh supaya ia tidak dapat berdiri gagah lagi… Cara paling utama, lupuskan terus keSultanan Aceh dan ini dilakukan 1903.

Daftar Pahlawan Indonesia

159 pahlawan sebelum 2014 ditambah 4 pahlawan nasional yang ditetapkan sejak 6 November 2014
Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Gelar Pahlawan Nasional ditetapkan oleh presiden. Sejak dilakukan pemberian gelar ini pada tahun 1959, nomenklaturnya berubah-ubah. Untuk menyelaraskannya, maka dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 disebutkan bahwa gelar Pahlawan Nasional mencakup semua jenis gelar yang pernah diberikan sebelumnya, yaitu: Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Pahlawan Proklamator, Pahlawan Revolusi, Pahlawan Kebangkitan Nasional, Pahlawan Perintis Kemerdekaan, dan Pahlawan Ampera.

Di bawah ini adalah daftar 163 tokoh yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Sebelum tahun 2014 terdapat 159 pahlawan nasional, pada tahun 2014 melalui Keputusan Presiden No.115/TK/2014 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada tanggal 6 November 2014 menetapkan 4 pahlawan nasional baru, sehingga jumlah seluruh pahlawan nasional menjadi 163.
Khusus mengenai Pahlawan Perintis Kemerdekaan dan Pahlawan Ampera tidak dimasukkan ke dalam daftar ini (dikarenakan perdebatan yang sampai saat ini masih berlangsung mengenai statusnya).
A. Wahab Hasbullah (K.H. Abdul Wahab Chasbullah, Kyai Wahab)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 115/TK/2014, tanggal 6 November 2014

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 83 tahun
Lahir : Sabtu Wage, 31 Maret 1888   di Jombang, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Rabu Legi, 29 Desember 1971   di Jombang, Jawa Timur
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang Jawa timur

Kategori : Agama

 Tokoh kemerdekaan, Tokoh Islam, salah seorang pendiri NU (Nahdlatul Ulama). Ketua Tim Komite Hijaz. Pendiri harian umum Soeara Nahdlatul Oelama (NO) dan Berita Nahdlatul Ulama. Pendiri Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Pelopor kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat di kalangan Umat Islam Indonesia. Inspirator Gerakan Pemuda Ansor. Rais Aam NU.


Ahmad Dahlan (K.H. Achmad Dahlan)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 657 Tahun 1961, tanggal 27 Desember 1961

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 54 tahun
Lahir : Sabtu Pahing, 1 Agustus 1868   di Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Jumat Kliwon, 23 Februari 1923   di Yogyakarta, Indonesia
Zodiak : Leo       Shio, Unsur, Sifat : Naga, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : RT 41 RW 11, Kampung Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta.

Kategori : Agama

 Pendiri Muhammadiyah. Pejuang bidang Pendidikan. Pembaharu cara berpikir dan beramal dalam Islam. Suami dari Siti Walidah yang juga Pahlawan Nasional.


Albertus Soegijapranata (Mgr A. Sugiopranoto, S.J.)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 152 Tahun 1963, tanggal 26 Juli 1963

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 66 tahun
Lahir : Rabu Kliwon, 25 November 1896   di Surakarta, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Senin Wage, 22 Juli 1963   di Steyl, Belanda
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal, Semarang, Jawa Tengah.

Kategori : Agama

 Uskup Agung Katolik Semarang. Seorang Patriot dan Nasionalis sejati. Beliau dipuji karena kekuatannya selama pendudukan Jepang dan revolusi nasional. Beliau bukan hanya seorang uskup, melainkan pemimpin Indonesia yang teruji sebagai pemimpin yang baik dan layak menjadi pahlawan nasional. Juni 2012, Sutradara Garin Nugroho membuat film biopik tentang Soegijapranata, yang diberi judul Soegija. Pidato Soegijapranata saat Kongres Katolik Seluruh Indonesia di Semarang tahun 1954, mengatakan, jika kita merasa sebagai orang Kristen yang baik, kita semestinya juga menjadi seorang patriot yang baik.


Fakhruddin (K.H. Fachruddin, Muhammad Jazuli)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 163 Tahun 1964, tanggal 26 Juni 1964

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 39 tahun
Lahir : 1890   di Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Kamis Pahing, 28 Februari 1929   di Yogyakarta,Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Macan, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kuncen, Yogyakarta.

Kategori : Agama

 Pejuang Pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Seorang Tokoh Muhammadiyah yang serba bisa. Perunding dalam Negosiasi untuk Perlindungan Jamaah Haji dari Nusantara (Indonesia, 1921-1929).


Hamka (Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 113/TK/2011, tanggal 7 November 2011

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 73 tahun
Lahir : Senen Kliwon, 17 Februari 1908   di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 24 Juli 1981   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Kategori : Agama

 Ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama. Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Seorang Sastrawan, Aktivis Politik, Wartawan, Penulis, Ulama, Editor, Ahli Filsafat.


Hasyim Ashari (K.H. Mohammad Hasjim Asjarie/Asyarie)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 72 tahun
Lahir : Sabtu Kliwon, 10 April 1875   di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Minggu Pahing, 7 September 1947   di Jombang, Jawa Timur
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur

Kategori : Agama

 Pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Terkenal dengan sebutan “Hadratus Syeikh” (Maha Guru). Keturunan dari Sultan Pajang Jaka Tingkir dan Raja Brawijaya V. Pendiri Pesantren Tebu Ireng.


Hazairin (Prof. Dr. Hazairin, SH)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 74/TK/1999, tanggal 13 Agustus 1999

Berasal dari Bengkulu     Usia saat meninggal : 69 tahun
Lahir : Rabu Wage, 28 November 1906   di Bukittinggi, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Kamis Wage, 11 Desember 1975   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Agama

 Pakar Hukum Adat, Aktivis Kemerdekaan, Pendidik. Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia ke-11.


Ilyas Ya'kub (H. Ilyas Yakoub)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 74/TK/1999, tanggal 13 Agustus 1999

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 55 tahun
Lahir : 1903   di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Gugur/Meninggal : Sabtu Wage, 2 Agustus 1958   di Koto Barapak, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Depan Masjid Raya Al-Munawarah Koto Barapak, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Kategori : Agama

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Politisi, Wartawan. Pendiri PMI (Partai Muslimin Indonesia) Tahun 1930. Pendiri PERMI (Persatuan Muslim Indonesia, 1932). Ketua DPRD Sumatera Tengah.


Mas Mansur (K.H. Mas Mansoer)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 163 tahun 1964, tanggal 26 Juni 1964

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 49 tahun
Lahir : Kamis Pahing, 25 Juni 1896   di Surabaya, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Kamis Pahing, 25 April 1946   di Kalisosok, Surabaya, Jawa Timur
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Gipo Surabaya, Jawa Timur

Kategori : Agama

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Ketua Umum Pengurus Besar Muhammadiyah (1937-1943). Tokoh Pembaharu Islam. Terkenal sebagai Empat Serangkai (Soekarno, M. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Mas Mansur).


Natsir (Dr. Mohammad Natsir)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 41/TK/2008, tanggal 6 November 2008

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 84 tahun
Lahir : Jumat Legi, 17 Juli 1908   di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 6 Februari 1993   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta.

Kategori : Agama

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Politisi, Sastrawan, Penulis (45 buku). Tokoh Sederhana Sepanjang Zaman. Perdana Menteri Indonesia Ke 5. Menteri Komunikasi dan Informatika ke 2. Pendiri dan Pemimpin Partai Masyumi. Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress), Ketua Dewan Masjid se-Dunia.


Nur Ali (KH. Noer Alie)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 85/TK/2006, tanggal 3 November 2006

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 78 tahun
Lahir : 1914   di Bekasi, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : 1992   di Bekasi, Jawa Barat
Shio, Unsur, Sifat : Macan, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Kategori : Agama

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Pemimpin Islam dan Pendidik. Memimpin Tentara Mahasiswa selama Revolusi Nasional.


Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah, Nyai Achmad Dachlan)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 42/TK/1971, tanggal 22 September 1971

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 74 tahun
Lahir : 1872   di Kauman, Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Jumat Pon, 31 Mei 1946   di Kauman, Yogyakarta, Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Masjid Gedhe Kauman, Gondomanan, Yogyakarta.

Kategori : Agama

 Tokoh Emansipasi Perempuan. Tokoh Pembaharu Islam. Pendiri dan Pemimpin Aisyiyah. Berpastiripasi dalam diskusi perang bersama Jenderal Sudirman dan Presiden Sukarno. Tokoh Muhammadiyah, istri K.H. Ahmad Dahlan.


Wahid Hasyim (Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 206 Tahun 1964, tanggal 24 Agustus 1964

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 38 tahun
Lahir : Senin Legi, 1 Juni 1914   di Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Minggu Pon, 19 April 1953   di Cimahi, Jawa Barat
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Macan, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur

Kategori : Agama

 Pemimpin Nahdlatul Ulama, Menteri Agama Indonesia Pertama. Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Perintis pembentukan Barisan Hizbullah yang membantu perjuangan mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pendiri Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), beliau menjadi anggota termuda. Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Beliau adalah ayah dari Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan anak dari Hasyim Asy’arie (juga Pahlawan Nasional Indonesia).


Yusuf Al-Makasari (Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 71/TK/1995, tanggal 7 Agustus 1995

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 73 tahun
Lahir : Jumat Wage, 3 Juli 1626   di Gowa, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 23 Mei 1699   di Cape Town, Afrika Selatan
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Macan, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Macassar Faure, Afrika Selatan

Kategori : Agama

 Bangsawan dari Kerajaan Goa (sulawesi Selatan). Mufti (penasehat spiritual) di Kerajaan Banten. Memimpin tentara Makassar dan Bugis membantu Rakyat Banten melawan Penjajah Belanda/VOC (pada massa Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purbaya). Ditangkap Belanda tahun 1684 dan ditahan di Cirebon, dipindah ke Batavia (Jakarta), selanjutnya dibuang ke pulau Ceylon (Sri Lanka). Di Sri Lanka, Beliau membentuk Jaringan Islam yang luas, dan melalui murid-muridnya di Nusantara terus mengobarkan perlawanan terhadap Belanda. Akhirnya diasingkan ke Zandvliet, Afrika Selatan. Disini beliau terus menyebarkan Agama Islam sekaligus semangat anti penjajahan terhadap rakyat Afrika Selatan, sampai wafat (23 Mei 1699). Nelson Mandela menyebutnya sebagai “Salah Seorang Putra Afrika Terbaik”.


Pajongga Daeng Ngalle (H. Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 85/TK/2006, tanggal 3 November 2006

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 57 tahun
Lahir : 1901   di Takalar, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : Minggu Wage, 23 Februari 1958   di Takalar, Sulawesi Selatan
Shio, Unsur, Sifat : Kerbau, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Kategori : Integrasi

 Pejuang Pembentukan Republik Indonesia. Ketua Laskar Gerakan Muda Bajoang, dan Koordinator Serangan di Sulawesi Selatan selama Revolusi Nasional. Karaeng (Kepala Pemerintahan Distrik) Polongbangkeng.


Silas Papare
Pahlawan Nasional : Keppres No. 77/TK/1993, tanggal 14 September 1993

Berasal dari Papua     Usia saat meninggal : 54 tahun
Lahir : Rabu Pahing, 18 Desember 1918   di Serui, Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia
Gugur/Meninggal : Rabu Kliwon, 7 Maret 1973   di Serui, Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Serui, Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia.

Kategori : Integrasi

 Nasionalis Papua dan Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Pendiri Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Pendiri Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta


Syarif Kasim II (Sultan Asyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 109/TK/1998, tanggal 6 November 1998

Berasal dari Riau     Usia saat meninggal : 74 tahun
Lahir : Jumat Kliwon, 1 Desember 1893   di Siak Sri Indrapura, Riau
Gugur/Meninggal : Selasa Legi, 23 April 1968   di Rumbai, Pekanbaru, Riau
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Siak Sri Indrapura, Kabupaten Siak, Riau

Kategori : Integrasi

 Sultan ke-12 di Kesultanan Siak Sri Indrapura. Pendukung Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Mendorong raja-raja di Sumatera Timur untuk mendukung dan mengintegrasikan diri dengan Republik Indonesia. Menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk Pemerintah Republik Indonesia, setara dengan 214,5 juta gulden (2014) atau 120,1 juta USD atau Rp 1,47 trilyun.


Abdulrahman Saleh (Marsda. Prof. dr. Abdulrachman Saleh, Sp.F.)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 71/TK/1974, tanggal 9 November 1974

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 38 tahun
Lahir : Kamis Kliwon, 1 Juli 1909   di Jakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Selasa Pahing, 29 Juli 1947   di Maguwoharjo, Sleman, DI Yoyakarta.
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta

Kategori : Kemerdekaan

 Tokoh Awal di Angkatan Udara, Aktivis Kemerdekaan. Bapak Fisiologi Kedokteran Indonesia. Tokoh, Pendiri, dan Ketua organisasi Radio Republik Indonesia (RRI), beliau juga banyak membantu dalam hal keuangan dan teknis. Beliau putra dr. Mohammad Saleh (salah seorang pendiri Budi Utomo, terkenal sebagai dokter yang dermawan dan banyak membantu perjuangan rakyat Probolinggo Jawa Timur).


Adisucipto (Marsda. Mas Agustinus Adisoetjipto)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 71/TK/1974, tanggal 9 November 1974

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 31 tahun
Lahir : Senin Wage, 3 Juli 1916   di Salatiga, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Selasa Pahing, 29 Juli 1947   di Bantul, Yogyakarta
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Naga, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta.

Kategori : Kemerdekaan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Bapak Penerbang Republik Indonesia. Tokoh Awal di Angkatan Udara. Pendiri Sekolah Penerbang di Yogyakarta (15 November 1945). Menjadi Wakil Kepala Staf yang pertama dengan pangkat Komodor Muda Udara (sejak 9 April 1946). Gugur bersama Abdulrachman Saleh saat menembus blokade udara Belanda (29 Juli 1947).


Andi Djemma
Pahlawan Nasional : Keppres No. 73/TK/2002, tanggal 6 November 2002

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 64 tahun
Lahir : Selasa Legi, 15 Januari 1901   di Palopo, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : Selasa Legi, 23 Februari 1965   di Makassar, Sulawesi Selatan
Zodiak : Capricorn       Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan

Kategori : Kemerdekaan

 Raja (Datu) Luwu. Aktivis Kemerdekaan, memimpin Perlawanan Semesta Rakyat Luwu terhadap Belanda selama Revolusi Nasional


Bagindo Azizchan
Pahlawan Nasional : Keppres No. 82/TK/2005, tanggal 7 November 2005

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 36 tahun
Lahir : Jumat Legi, 30 September 1910   di Padang, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Sabtu Pahing, 19 Juli 1947   di Padang, Sumatera Barat
Zodiak : Libra       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Bahagia, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Kategori : Kemerdekaan

 Walikota Padang ke 2. Meninggal setelah terlibat dalam sebuah pertempuran melawan Belanda.


Halim Perdanakusuma (Marsda. Abdul Halim Perdana Kusuma)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 63/TK/1975, tanggal 9 Agustus 1975

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 25 tahun
Lahir : Sabtu Pon, 18 November 1922   di Sampang, Madura, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Minggu Kliwon, 14 Desember 1947   di Lumut, Perak, Malaysia
Zodiak : Scorpio       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Kemerdekaan

 Tokoh Awal di Angkatan Udara RI. Bertugas sebagai Perwira Operasi, antara lain menembus blokade udara Belanda, mengatur siasat serangan udara atas daerah lawan, operasi penerjunan pasukan di luar Jawa, penyelenggaraan operasi penerbangan dalam rangka pembinaan wilayah, membangun AURI khususnya di Sumatera. Beliau gugur saat pesawatnya kembali dari usaha mencari bantuan ke luar negeri.


I Gusti Ngurah Rai (Brigjen I Gusti Ngurah Rai)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 63/TK/1975, tanggal 9 Agustus 1975

Berasal dari Bali     Usia saat meninggal : 29 tahun
Lahir : Selasa Kliwon, 30 Januari 1917   di Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali
Gugur/Meninggal : Rabu Legi, 20 November 1946   di Marga, Tabanan, Bali
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Candi Margarana, Kabupaten Tabanan, Bali.

Kategori : Kemerdekaan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Pemimpin Perang Puputan Margarana di Bali.


Iswahyudi (Marsma. R. Iswahjoedi)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 63/TK/1975, tanggal 9 Agustus 1975

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 29 tahun
Lahir : Senin Legi, 15 Juli 1918   di Surabaya, Jawa Timur.
Gugur/Meninggal : Minggu Kliwon, 14 Desember 1947   di Tanjung Hantu, Malaysia
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Kemerdekaan

 Tokoh Awal di Angkatan Udara. Gugur saat perang mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.


Jamin Ginting (Letjen TNI Djamin Gintings)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 115/TK/2014, tanggal 6 November 2014

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 53 tahun
Lahir : Rabu Pon, 12 Januari 1921   di Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara
Gugur/Meninggal : Rabu Kliwon, 23 Oktober 1974   di Ottawa, Kanada
Zodiak : Capricorn       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta

Kategori : Kemerdekaan

 Tokoh perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di Sumatera Utara. Kepala Staf Kodam II/Bukit Barisan, Assisten Dua Bagian Perang di TNI, Panglima TT I Bukit Barisan, Panglima Sumatera Utara. Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional di Kabinet Dwikora Revisi Kedua. Penulis buku Bukit Kadir. Sekretaris Presiden merangkap Wakil Sekretaris Negara. Duta Besar RI di Kanada.


Muhammad Mangundiprojo (H.R. Mohammad Mangoendiprodjo)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 115/TK/2014, tanggal 6 November 2014

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 83 tahun
Lahir : Kamis Pahing, 5 Januari 1905   di Sragen, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Selasa Kliwon, 13 Desember 1988   di Bandar Lampung, Lampung
Zodiak : Capricorn       Shio, Unsur, Sifat : Naga, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan Bandar Lampung, Lampung

Kategori : Kemerdekaan

 Pejuang kemerdekaan, salah satu pemimpin Pertempuran Surabaya (perlawanan terhadap pasukan Sekutu) yang akhirnya dijadikan sebagai Hari Pahlawan Indonesia (10 November). Kepala Divisi Tentara Keamanan Rakyat Jawa Timur ke-1. Bupati Ponorogo ke 4, Residen (Gubernur) pertama Lampung. Cucunya adalah Indroyono Soesilo, Menteri Kemaritiman Indonesia 2014-2019.


Sam Ratulangi (Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961

Berasal dari Sulawesi Utara     Usia saat meninggal : 58 tahun
Lahir : Rabu Pon, 5 November 1890   di Tondano, Sulawesi Utara
Gugur/Meninggal : Kamis Wage, 30 Juni 1949   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Scorpio       Shio, Unsur, Sifat : Macan, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kelurahan Wawalintouan, Kecamatan Tondano Minahasa, Sulawesi Utara

Kategori : Kemerdekaan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Tokoh multidimensional, terkenal dengan filsafatnya: “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia. Gubernur Sulawesi Utara pertama.


Slamet Riyadi (Brigjen. Ignatius Slamet Rijadi)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 66/TK/2007, tanggal 9 November 2007

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 23 tahun
Lahir : Selasa Wage, 26 Juli 1927   di Surakarta, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 4 November 1950   di Ambon, Maluku, Indonesia
Zodiak : Leo       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : 1. Taman Makam Pahlawan (TMP) depan klompeks Taman Jurug Jebres Solo, Jawa Tengah. 2. Ambon, Maluku.

Kategori : Kemerdekaan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Brigadir Jenderal Angkatan Darat. Memimpin pasukan Indonesia di beberapa daerah di Jawa Tengah, termasuk Ambarawa dan Semarang untuk melawan penjajah Belanda. Gugur/meninggal saat memadamkan pemberontakan RMS di Maluku yang didukung Belanda.


Sukarni (Soekarni Kartodiwirjo)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 115/TK/2014, tanggal 6 November 2014

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 54 tahun
Lahir : Jumat Kliwon, 14 Juli 1916   di Blitar, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Jumat Kliwon, 7 Mei 1971   di Jakarta
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Naga, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta

Kategori : Kemerdekaan

 Tokoh kemerdekaan, diplomat, dan politisi. Salah satu tokoh kelompok pejuang pemuda yang berperan penting dalam mempercepat proklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, dengan cara melakukan penculikan terhadap Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, turut merumuskan naskah proklamasi. Pendiri organisasi Persatuan Pemuda Kita. Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda. Anggota Konstituante, Anggota Dewan Pertimbangan Agung. Duta Besar RI untuk RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dan Mongolia.


Supeno (Soepeno)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 39/TK/1970, tanggal 13 Juli 1970

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 32 tahun
Lahir : Senin Pon, 12 Juni 1916   di Kota Pekalongan, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Kamis Pon, 24 Februari 1949   di Ganter, Ngliman, Sawahan, Nganjuk, Jawa Timur
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Naga, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Semaki, Yogyakarta.

Kategori : Kemerdekaan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Menteri Pemuda dan Pembangunan RI. Gugur/meninggal tanggal 24 Februari 1949 saat berperang melawan Belanda pada Agresi Militer Belanda ke 2.


Suryo (Gubernur Surjo, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 53 tahun
Lahir : Sabtu Legi, 9 Juli 1895   di Magetan, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 10 September 1948   di Bago, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Kambing, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Sasono Mulyo, Sawahan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Kategori : Kemerdekaan

 Gubernur Jawa Timur Pertama. Bupati Magetan. Residen Bojonegoro. Anggota Dewan Pertimbangan Agung RI (DPA). Dengan Tegas Menolak Ultimatum Inggris dan memerintahkan rakyat Surabaya (Jawa Timur) berperang melawan Inggris yang diboncengi Belanda, dan terkenal sebagai Pertempuran 10 November 1945, selanjutnya diperingati sebagai Hari Pahlawan RI.


Sutomo (Bung Tomo, Mayor Jenderal Soetomo)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 41/TK/2008, tanggal 6 November 2008

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 61 tahun
Lahir : Minggu Pahing, 3 Oktober 1920   di Surabaya, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Rabu Legi, 7 Oktober 1981   di Padang Arafah, Arab Saudi
Zodiak : Libra       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : TPU (Tempat Pemakamna Umum) Ngagel, Surabaya, Jawa Timur.

Kategori : Kemerdekaan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Jurnalis, Orator Ulung. Termasuk Pendiri Tentara Keamanan Rakyat. Mayor Jenderal TNI AD, Koordinator Bidang Informasi dan Perlengkapan Perang untuk AD, AL, AU. Salah satu Pemimpin yang menggerakkan Rakyat Surabaya dalam pertempuran melawan Inggris yang ditunggangi Penjajah Belanda (terutama 10 November 1945). Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945. Anggota DPR. Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim.


T.B. Simatupang (Letjen. Dr. HC Tahi Bonar Simatupang)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 68/TK/2013, tanggal 6 November 2013

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 69 tahun
Lahir : Rabu Pon, 28 Januari 1920   di Sidikalang, Sumatera Utara
Gugur/Meninggal : Senin Wage, 1 Januari 1990   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta

Kategori : Kemerdekaan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Penulis. Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954). Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI (1954-1959). Perumus Sumpah Prajurit dan Sapta Marga TNI. Ketua PGI (Persekutuan Gereja Indonesia), Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja Asia, Ketua Dewan Gereja se-Dunia. Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia (UKI). Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM).


Wolter Monginsidi (Robert Wolter Monginsidi)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 88/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari Sulawesi Utara     Usia saat meninggal : 24 tahun
Lahir : Sabtu Pahing, 14 Februari 1925   di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara
Gugur/Meninggal : Senin Legi, 5 September 1949   di Pacinang, Makassar, Sulawesi Selatan
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Kerbau, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan

Kategori : Kemerdekaan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 17 Juli 1946, Monginsidi dengan Ranggong Daeng Romo dan lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) untuk bertempur melawan Belanda. Akhirnya tertangkap Belanda dan di hukum mati (dieksekusi oleh tim penembak) pada 5 September 1949.


A.H. Nasution (Jenderal Besar Dr. Abdul Harris Nasution)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 73/TK/2002, tanggal 6 November 2002

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 81 tahun
Lahir : Selasa Pahing, 3 Desember 1918   di Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara
Gugur/Meninggal : Selasa Wage, 5 September 2000   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Militer

 Jenderal Besar TNI, Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia, Ketua Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ke-2 (MPRS), Menteri Pertahanan ke-12, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD, KSAD) sebanyak 2 Kali. Ahli perang gerilya, peletak dasar perang gerilya, penulis buku yang fenomenal dengan judul Fundamentals of Guerrilla Warfare, yang diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, dan menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite militer dunia, West Point, Amerika Serikat.


Basuki Rahmat (Jenderal Basuki Rachmat)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 10/TK/1969, tanggal 9 November 1969

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 45 tahun
Lahir : Jumat Wage, 4 November 1921   di Tuban, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Rabu Legi, 8 Januari 1969   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Scorpio       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Militer

 Jenderal, Panglima Kodam VII Brawijaya. Menteri Dalam Negeri. Saksi Supersemar.


Bau Massepe (Letjen. Andi Abdullah Bau Massepe)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 82/TK/2005, tanggal 7 November 2005

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 29 tahun
Lahir : 1918   di Massepe, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : Minggu Kliwon, 2 Februari 1947   di Pare-Pare, Sulawesi Selatan
Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan.

Kategori : Militer

 Pejuang heroik dan Panglima pertama TRI Divisi Hasanuddin. Pewaris tahta Kerajaan Bone, Gowa, Suppa, Allita, Sidenreng Rappang dan Sawito. Putra dari Andi Mappanyukki (juga Pahlawan Nasional)


Djatikusumo (Jenderal Goesti Pangeran Harjo Djatikoesoemo)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 73/TK/2002, tanggal 6 November 2002

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 75 tahun
Lahir : Minggu Pahing, 1 Juli 1917   di Surakarta, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Sabtu Wage, 4 Juli 1992   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Wonogiri, Jawa Tengah

Kategori : Militer

 Pejuang dari Keraton Surakarta. Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama. Duta Besar RI. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang pertama. Menteri Perhubungan.


Gatot Soebroto (Jenderal Gatot Subroto)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 222 Tahun 1962, tanggal 18 Juni 1962

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 54 tahun
Lahir : Kamis Kliwon, 10 Oktober 1907   di Banyumas, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Senin Pon, 11 Juni 1962   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Libra       Shio, Unsur, Sifat : Kambing, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Desa Sidomulyo, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Kategori : Militer

 Tokoh perjuangan militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Panglima Tentara & Teritorium (T&T) IV Diponegoro. Wakil Staff Kepala Angkatan Darat.


Harun Thohir (Kopral KKO Harun bin Said, Thohir bin Mandar, Tahir)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 50/TK/1968, tanggal 17 Oktober 1968

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 21 tahun
Lahir : Jumat Legi, 4 April 1947   di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur,
Gugur/Meninggal : Kamis Pon, 17 Oktober 1968   di Singapura
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Militer

 Pejuang pada masa Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Gugur di Singapura.


Hasan Basry (Brigjen H. Hasan Basry)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 110/TK/2001, tanggal 3 November 2001

Berasal dari Kalimantan Selatan     Usia saat meninggal : 61 tahun
Lahir : Minggu Wage, 17 Juni 1923   di Kandangan, Hulu Sungai Selatan
Gugur/Meninggal : Minggu Pon, 15 Juli 1984   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Simpang Empat, Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Kategori : Militer

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Bapak Gerilya Kalimantan. Ketua Umum Harian Angkatan 45 Kalsel. Anggota DPR, Dewan Paripurna Angkatan 45 dan Legiun Veteran RI. Panglima Daerah Militer X.


John Lie (Laksda Lie Tjeng Tjoan, Jahja Daniel Dharma)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 58/TK/2009, tanggal 9 November 2009

Berasal dari Sulawesi Utara     Usia saat meninggal : 77 tahun
Lahir : Kamis Legi, 9 Maret 1911   di Manado, Sulawesi Utara
Gugur/Meninggal : Sabtu Pahing, 27 Agustus 1988   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Militer

 Laksamana Muda TNI Angkatan Laut. Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Komandan Kapal Perang Rajawali. Mendapat penghargaan Bintang Mahaputera Utama dan Bintang Mahaputera Adipradana.


Marthen Indey
Pahlawan Nasional : Keppres No. 77/TK/1993, tanggal 14 September 1993

Berasal dari Papua     Usia saat meninggal : 74 tahun
Lahir : Kamis Pahing, 14 Maret 1912   di Doromena, Jayapura, Papua, Indonesia
Gugur/Meninggal : Kamis Kliwon, 17 Juli 1986   di Doromena, Jayapura, Papua, Indonesia
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Makam Pahlawan Nasional Marthen Indey, Kampung Sabron, Kabupaten Jayapura, Papua

Kategori : Militer

 Aktivis Kemerdekaan Indonesia yang membantu Pembentukan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), khususnya Pembebasan Papua dari Penjajah Belanda.


Mustopo (Mayjen. Prof. Dr. Moestopo)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 66/TK/2007, tanggal 9 November 2007

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 73 tahun
Lahir : Minggu Pon, 13 Juli 1913   di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Senin Wage, 29 September 1986   di Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Kerbau, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung, Jawa Barat.

Kategori : Militer

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Dokter gigi Indonesia dan Pendidik. Menteri Pertahanan Ad. Interim. Penasehat Jenderal Sudirman. Panglima Pasukan Penggempur dan Panglima Teritorial Jawa Timur. Pendiri dan Ketua Yayasan Pendidikan Prof. Dr. Moestopo.


R. E. Martadinata (Laksamana Laut Raden Eddy Martadinata)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 220 Tahun 1966, tanggal 7 Oktober 1966

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 45 tahun
Lahir : Selasa Wage, 29 Maret 1921   di Bandung, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Kamis Legi, 6 Oktober 1966   di Gunung Riung Gunung, Pangalengan, Indonesia
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Militer

 Menteri/Panglima Angkatan Laut (1959 – 1966). Duta Besar RI untuk Pakistan. Tokoh Angkatan Laut RI yang disegani.


Sudirman (Jenderal Besar Raden Soedirman)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 314 Tahun 1964, tanggal 10 Desember 1964

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 34 tahun
Lahir : Senin Pon, 24 Januari 1916   di Purbalingga, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Minggu Pahing, 29 Januari 1950   di Magelang, Jawa Tengah
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara Semaki, Yogyakarta.

Kategori : Militer

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Seorang Guru, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama (TKR, Tentara Keamanan Rakyat), dari tahun 1945 sampai 1950 yang merupakan tahun kritis dan sangat menentukan kemerdekaan Republik Indonesia.


Supriyadi (Soedanco Soeprijadi, Suprijadi)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 63/TK/1975, tanggal 9 Agustus 1975

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 22 tahun
Lahir : Jumat Wage, 13 April 1923   di Trenggalek, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : 1945   di Biltar, Jawa Timur (sebagian menyatakan hilang, namun dipastikan gugur sebelum 17 Agustus 1945).
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Di Depan bekas markas PETA, Jl. Soedanco Soepriyadi, Blitar, Jawa Timur (Monumen/Patung)

Kategori : Militer

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) Penjajah Jepang di Blitar. Menteri Keamanan Rakyat Republik Indonesia ke-1.


Tjilik Riwut (Marsekal Pertama Tjilik Riwut)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 108/TK/1998, tanggal 6 November 1998

Berasal dari Kalimantan Tengah     Usia saat meninggal : 69 tahun
Lahir : Sabtu Pon, 2 Februari 1918   di Desa Kasongan, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Gugur/Meninggal : Senin Legi, 17 Agustus 1987   di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah

Kategori : Militer

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Pencinta alam sejati yang sangat menjunjung tinggi budaya leluhurnya (suku Dayak). Penulis buku. Memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama pada 17 Oktober 1947 oleh pasukan MN 1001, yang ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU. Gubernur Kalimantan Tengah ke-2. Anggota DPR RI.


Urip Sumoharjo (Jenderal Oerip Soemohardjo)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 314 Tahun 1964, tanggal 10 Desember 1964

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 55 tahun
Lahir : Rabu Pon, 22 Februari 1893   di Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia
Gugur/Meninggal : Rabu Wage, 17 November 1948   di Yoyakarta, Indonesia
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara Semaki, Yogyakarta

Kategori : Militer

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Pemimpin Tentara Keamanan Rakyat RI yang Pertama (sebelum Sudirman). Membentuk Angkatan Perang Nasional Indonesia yang pertama. Penasehat Wakil Presiden (merangkap Menteri Pertahanan).


Usman Janatin (Serda. KKO. Oesman Djanatin bin Haji Mohammad Ali)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 50/TK/1968, tanggal 17 Oktober 1968

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 25 tahun
Lahir : Kamis Pon, 18 Maret 1943   di Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Kamis Pon, 17 Oktober 1968   di Singapura
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Kambing, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Militer

 Pejuang pada masa Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Gugur di Singapura.


Yos Sudarso (Laksmana Madya Josaphat Soedarso)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 88/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 36 tahun
Lahir : Selasa Kliwon, 24 November 1925   di Salatiga, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Senin Legi, 15 Januari 1962   di Laut Arafura Kepulauan Aru, Indonesia
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Kerbau, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Monumen Yos Sudarso, Surabaya, Jawa Timur.

Kategori : Militer

 Beliau adalah Deputi Operasi Komando Staf Angkatan Laut (KSAL) yang terjun langsung dalam pertempuran membebaskan Papua (Irian Barat) dari Penjajah Belanda. Tanggal 15 Januari 1962, beliau gugur di atas KRI Macan Tutul dalam peristiwa pertempuran Laut Arafura Kepulauan Aru dengan kekuatan yang tidak seimbang, setelah ditembak oleh kapal patroli Hr. Ms. Eversten milik armada Belanda.


Suharso (Prof. Dr. R. Soeharso)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 88/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 58 tahun
Lahir : Senin Pahing, 13 Mei 1912   di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 27 Februari 1971   di Rumah Jl. Slamet Riyadi, Surakarta, Jawa Tengah
Zodiak : Taurus       Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Dukuh Seboto, Desa Seboto, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Kategori : Pembangunan

 Pejuang Kemanusiaan. Dokter ahli bedah. Bapak Orthopaedic Indonesia. Pendiri Pusat Rehabilitasi penderita cacat jasmani di Surakarta, Jawa Tengah. Pelopor Medis di Bidang Prostesis (kaki dan tangan tiruan). Pendiri Rumah Sakit Ortopedi dan Yayasan Pemeliharaan Anak-anak Cacat di Surakarta.


T.M. Hasan (Dr. HC Mr. Teuku H. Muhammad Hasan)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 85/TK/2006, tanggal 3 November 2006

Berasal dari NAD (Aceh)     Usia saat meninggal : 91 tahun
Lahir : Rabu Legi, 4 April 1906   di Sigli, Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia
Gugur/Meninggal : Minggu Wage, 21 September 1997   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Pembangunan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Bangsawan Aceh, Wakil Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Gubernur Sumatera Pertama. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama. Ketua Komisi Perdagangan dan Industri DPRS. Ketua Panitia Negara Urusan Pertambangan (PNUP) yang berhasil Menasionalisasi beberapa Perusahaan Minyak Asing. Pendiri Universitas Serambi Mekkah.


Tien Suharto (Ny. Hj. Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah Soeharto)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 60/TK/1996, tanggal 30 Juli 1996

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 72 tahun
Lahir : Kamis Legi, 23 Agustus 1923   di Desa Jaten, Surakarta (Solo), Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Minggu Pon, 28 April 1996   di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta, Indonesia
Zodiak : Virgo       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Astana Giri Bangun, Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Kategori : Pembangunan

 Ibu Negara Republik Indonesia (1967 – 1996), Istri Presiden Suharto, aktif dalam Kegiatan Sosial dan Budaya. Penggagas sekaligus Pendiri Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Anggota Laskar Putri Indonesia (LPI), penunjang kesuksesan perjuangan.


W.Z. Johannes (Prof. Dr. Wilhelmus Zakaria Johannes)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 6/TK/1968, tanggal 27 Maret 1968

Berasal dari NTT (Nusa Tenggara Timur)     Usia saat meninggal : 57 tahun
Lahir : 1895   di Termanu, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Gugur/Meninggal : Kamis Legi, 4 September 1952   di Den Haag, Belanda
Shio, Unsur, Sifat : Kambing, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Pemakaman Umum (TPU) Jati Petamburan, Jakarta Pusat.

Kategori : Pembangunan

 Pendidik dan Pejuang Pergerakan Nasional. Ahli Rontgen Pertama Indonesia. Pelopor Medis Bidang Radiologi. Turut mendirikan Badan Persiapan Persatuan Kristen (BPPK), yang menjelma menjadi Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Ketua Partai Kristen Nasional (PKN). Juga membentuk organisasi perjuangan, yakni Gerakan Rakyat Indonesia Sunda Kecil (GRISK) untuk mempertahankan Kemerdekaan RI. Anggota BP KNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat). Presiden (Rektor) Universitas Indonesia.


Dewi Sartika (Raden Dewi Sartika)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 252 Tahun 1966, tanggal 1 Februari 1966

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 62 tahun
Lahir : Kamis Legi, 4 Desember 1884   di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Kamis Legi, 11 September 1947   di Tasikmalaya, Jawa Barat
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung, Jawa Barat.

Kategori : Pendidikan

 Tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Mendirikan Sekolah Pertama untuk Perempuan.


Ki Hadjar Dewantara (Dr. HC RM Soewardi Soerjaningrat)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 69 tahun
Lahir : Kamis Legi, 2 Mei 1889   di Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Minggu Legi, 26 April 1959   di Yogyakarta, Indonesia
Zodiak : Taurus       Shio, Unsur, Sifat : Kerbau, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Wijaya Brata, Celeban, Yogyakarta.

Kategori : Pendidikan

 Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Menteri Pendidikan Nasional Pertama. Pendiri Taman Siswa, Aktivis Pergerakan Kemerdekaan RI. Tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.


Ki Mangunsarkoro (Ki Sarmidi Mangunsarkoro)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 113/TK/2011, tanggal 7 November 2011

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 53 tahun
Lahir : Senin Kliwon, 23 Mei 1904   di Surakarta, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Sabtu Wage, 8 Juni 1957   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Naga, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Makam Keluarga Besar Tamansiswa Taman Wijaya Brata, Celeban, Yogyakarta.

Kategori : Pendidikan

 Pendidik dan Pejuang Pendidikan. Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan ke 5. Tampil sebagai pembicara dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928. Penulis berbagai buku pendidikan.


R. A. Kartini (Raden Adjeng Kartini, Raden Ayu Kartini)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 25 tahun
Lahir : Senin Pahing, 21 April 1879   di Jepara, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Sabtu Pahing, 17 September 1904   di Rembang, Jawa Tengah
Zodiak : Taurus       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang, Jawa Tengah.

Kategori : Pendidikan

 Pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Pejuang Hak-Hak Perempuan dari Jawa. Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” berisi Surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini kepada teman-temannya di Eropa yang sekaligus berisi pemikirannya.


Maria Walanda Maramis (Maria Josephine Catherine Maramis)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 12/TK/1969, tanggal 20 Mei 1969

Berasal dari Sulawesi Utara     Usia saat meninggal : 51 tahun
Lahir : Minggu Kliwon, 1 Desember 1872   di Kema, Sulawesi Utara
Gugur/Meninggal : Selasa Wage, 22 April 1924   di Maumbi, Sulawesi Utara
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Maria Walanda Maramis, Desa Maumbi Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Kategori : Pergerakan

 Pendidik dan Penggiat Hak-Hak Perempuan. Sosok pendobrak adat, pejuang kemajuan dan emansipasi perempuan di dunia politik dan pendidikan. Pendiri Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT)


Sutomo (Dr. Soetomo)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 657 Tahun 1961, tanggal 27 Desember 1961

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 49 tahun
Lahir : Senin Kliwon, 30 Juli 1888   di Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Senin Kliwon, 30 Mei 1938   di Surabaya, Jawa Timur
Zodiak : Leo       Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur

Kategori : Pergerakan

 Pejuang Pergerakan Kemerdekaan Indonesia, dokter, wartawan, politisi. Pendiri Budi Utomo (1908), organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia. Pendiri Indonesische Studie Club (ISC), 1924. Pendiri Partai Bangsa Indonesia (1930). Pendiri dan Ketua Parindra (Partai Indonesia Raya, 1935). Pendiri beberapa surat kabar pergerakan dan perjuangan.


W. R. Supratman (Wage Roedolf Soepratman)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 16/TK/1971, tanggal 20 Mei 1971

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 35 tahun
Lahir : Senin Wage, 9 Maret 1903   di Jatinegara, Jakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Rabu Wage, 17 Agustus 1938   di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Jalan Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur

Kategori : Pergerakan

 Aktivis Pergerakan Nasional. Pencipta lagu Kebangsaan Indonesia : “Indonesia Raya” (1924). Pada malam penutupan Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, WR Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya “Indonesia Raya”, dan pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.


Wahidin Sudirohusodo (dr. Wahidin Soedirohoesodo)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 88/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 65 tahun
Lahir : Rabu Legi, 7 Januari 1852   di Mlati, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 26 Mei 1917   di Yogyakarta, DIY, Indonesia
Zodiak : Capricorn       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Jl. Magelang, Desa Sendangadi. Kecamatan Mlati, Sleman, Yogyakarta

Kategori : Pergerakan

 Pendidik dan Pelopor Pergerakan Nasional Indonesia. Seorang dokter yang sebagian besar usianya dihabiskannya untuk membantu rakyat kecil guna meningkatkan kecerdasan mereka. Dimulai dari menerbitkan dan Memimpin Majalah Retno Dumilah (sejak tahun 1894), disusul Majalah Guru Desa. Mendirikan Badan Beasiswa “Darmo-woro” (25 Oktober 1913) dengan menjual harta bendanya dan berkeliling Pulau Jawa untuk membantu anak-anak pribumi. Mengilhami lahirnya Budi Utomo. Menjadi Ketua Panitia Konggres I Budi Utomo.


Achmad Rifai (K.H. Ahmad Rifa'i)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 89/TK/2004, tanggal 5 November 2004

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 83 tahun
Lahir : Sabtu Kliwon, 9 Muharam 1200 H (12 November 1785)   di Tempuran, Kendal, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Rabu Kliwon, 25 Robiul Akhir 1286 H (4 Agustus 1869)   di Manado, Sulawesi Utara
Zodiak : Scorpio       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Makam Kiai Modjo, Pekuburan Jawa Tondano di Kelurahan Kampung Jawa,Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Kategori : Perjuangan

 Pemikir Islam dan Penulis terkenal karena sikap anti penjajah Belanda. Sebanyak lebih dari 60 buku/kitab yang ditulisnya. Dalam berdakwah ia mengobarkan semangat anti penjajah dan gagasannya bisa dikategorikan pembaharuan, purifikasi (pemurnian), dan pencerahan. Juga fikihisasi karena ajarannya bersifat fikih. Membangun komunitas Rifaiyah.


Ageng Tirtayasa (Sultan Ageng Tirtajasa, Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 45/TK/1970, tanggal 1 Agustus 1970

Berasal dari Banten     Usia saat meninggal : 61 tahun
Lahir : 1631   di Banten, Indonesia
Gugur/Meninggal : 1692   di Penjara Batavia (Jakarta), Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Kambing, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Makam Raja-Raja (Sultan) Banten, Mesjid Agung Banten.

Kategori : Perjuangan

 Sultan (Raja/Pemimpin) Kesultanan Banten pada periode 1651 – 1683 yang memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda (VOC). Beliau berusaha mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar, meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, beliau mengangkat Syekh Yusuf Al-Makasari (juga Pahlawan Nasional) sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.


Agung Hanyokrokusumo (Sultan Agung Anyokrokusumo)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 106/TK/1975, tanggal 3 November 1975

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 52 tahun
Lahir : 1593   di Kutagede, Kesultanan Mataram
Gugur/Meninggal : 1645   di Karta (Plered, Bantul), Kesultanan Mataram
Shio, Unsur, Sifat : Ular, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Pemakaman Imogiri di Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Kategori : Perjuangan

 Sultan Mataram terbesar, berperang melawan penindasan Belanda. Seorang Pejuang dan Budayawan. Memadukan Kalender Hijriyah dengan Kalender Saka, menjadi Kalender Jawa Islam


Andi Mapanyuki (Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 89/TK/2004, tanggal 5 November 2004

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 82 tahun
Lahir : 1885   di Bone, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : Selasa Kliwon, 18 April 1967   di Jonggaya (Jl. Kumala no.160) Makassar, Sulawesi Selatan.
Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan

Kategori : Perjuangan

 Raja Bone ke-XXXII dengan gelar Sultan Ibrahim. Pejuang Kemerdekaan, memimpin perlawanan terhadap Belanda. Ayah dari Andi Abdullah Bau Massepe (juga Pahlawan Nasional)


Cut Nyak Dhien (Tjut Njak Dhien, Tjoet Nja' Dhien)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 106 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964

Berasal dari NAD (Aceh)     Usia saat meninggal : 60 tahun
Lahir : 1848   di Lampadang, Kerajaan Aceh (Aceh Besar, Wilayah VI Mukim)
Gugur/Meninggal : Jumat Pon, 6 November 1908   di Sumedang, Jawa Barat
Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin Gerilya Aceh yang berperang melawan Pasukan Kolonial Belanda pada masa perang Aceh (1873-1904). Istri Teuku Umar (juga Pahlawan Nasional)


Cut Nyak Meutia (Tjut Meutia, Tjoet Nja' Meutia)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 106 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964

Berasal dari NAD (Aceh)     Usia saat meninggal : 40 tahun
Lahir : 1870   di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, NAD, Indonesia.
Gugur/Meninggal : Senin Kliwon, 24 Oktober 1910   di Alue Kurieng, NAD (Aceh), Indonesia.
Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Alue Kurieng, NAD (Aceh).

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin Gerilya Aceh yang berperang melawan Pasukan Kolonial Belanda. Gugur pada pertempuran di Alue Kurieng tanggal 24 Oktober 1910.


Diponegoro (Pangeran Diponegoro, Raden Mas Ontowiryo)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 87/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 69 tahun
Lahir : Jumat Wage, 11 November 1785   di Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Senin Pon, 8 Januari 1855   di Makassar, Sulawesi Selatan
Zodiak : Scorpio       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan.

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin Perang Jawa Terbesar melawan Belanda (Perang Diponegoro, 1825-1830). Penghargaan tertinggi diberikan Dunia (UNESCO) pada 21 Juni 2013 menetapkan Babad Diponegoro sebagai Memory of the World.


Hamengkubuwana I (Sri Sultan Hamengkuwubono I)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 85/TK/2006, tanggal 3 November 2006

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 74 tahun
Lahir : Jumat Kliwon, 6 Agustus 1717   di Kartasura, Indonesia
Gugur/Meninggal : Sabtu Wage, 24 Maret 1792   di Yogyakarta, Indonesia
Zodiak : Leo       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Astana Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta.

Kategori : Perjuangan

 Pendiri sekaligus Raja Pertama Kesultanan Yogyakarta, berjuang melawan Hindia Belanda di Yogyakarta. Raja terbesar dari keluarga Mataram sejak Sultan Agung.


Hasanuddin (Sultan Hasanuddin)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 87/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 39 tahun
Lahir : Minggu Pon, 12 Januari 1631   di Makassar, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : Kamis Wage, 12 Juni 1670   di Makassar, Sulawesi Selatan
Zodiak : Capricorn       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan

Kategori : Perjuangan

 Raja Gowa ke 16. Menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni (Belanda). Karena keberaniannya oleh Belanda dijuluki Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur.


I Gusti Ketut Jlantik (Patih Jelantik)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 77/TK/1993, tanggal 15 September 1993

Berasal dari Bali     Usia saat meninggal : tahun
Lahir :   di Karangasem, Bali, Indonesia
Gugur/Meninggal : 1849   di Perbukitan Bale Pundak, Gunung Batur, Kintamani, Bali
Lokasi Makam/Monumen : Buleleng, Bali (Monumen)

Kategori : Perjuangan

 Patih Kerajaan Buleleng. Pemimpin Perang Puputan Jagaraga melawan Pasukan Kolonial Belanda.


Imam Bonjol (Tuanku Imam Bondjol)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 87/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 92 tahun
Lahir : 1772   di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Minggu Pon, 6 November 1864   di Lotak, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara
Shio, Unsur, Sifat : Naga, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Lotak, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin (Imam) kaum Padri di Bonjol yang memimpin perang melawan Belanda dalam Perang Padri tahun 1803-1838 di Sumatera Barat.


Iskandar Muda (Sultan Iskandar Muda)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 77/TK/1993, tanggal 14 September 1993

Berasal dari NAD (Aceh)     Usia saat meninggal : 43 tahun
Lahir : 1593   di Banda Aceh, Aceh, Indonesia.
Gugur/Meninggal : Sabtu Pon, 27 September 1636   di Banda Aceh, Aceh, Indonesia.
Shio, Unsur, Sifat : Ular, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Makam Pahlawan Nasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, NAD, Indonesia.

Kategori : Perjuangan

 Sultan Aceh yang Terbesar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636, dengan reputasi internasional sebagai pusat perdagangan dan pembelajaran tentang Islam.


Kiras Bangun (Garamata)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 82/TK/2005, tanggal 7 November 2005

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 90 tahun
Lahir : 1852   di Kampung Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara
Gugur/Meninggal : Kamis Legi, 22 Oktober 1942   di Karo, Sumatera Utara
Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Desa Batukarang, Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin Gerilya yang menggalang kekuatan lintas agama di Sumatera Utara dan Aceh untuk menentang penjajahan Belanda.


La Maddukelleng (Arung Matowa Wajo XXXIV, Arung Siengkang)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 109/TK/1998, tanggal 6 November 1998

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 65 tahun
Lahir : 1700   di Wajo, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : 1765   di Wajo, Sulawesi Selatan
Shio, Unsur, Sifat : Naga, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

Kategori : Perjuangan

 Raja Pasir dari Kesultanan Pasir. Raja Wajo (Arung Matowa Wajo XXXIV) di Kerajaan Wajo. Memimpin pasukan dari suku Bugis, Pasir, Kutai, Makassar serta Bugis-Pagatan, untuk melawan Belanda.


Martha Christina Tiahahu
Pahlawan Nasional : Keppres No. 12/TK/1969, tanggal 20 Mei 1969

Berasal dari Maluku     Usia saat meninggal : 17 tahun
Lahir : Sabtu Legi, 4 Januari 1800   di Abubu, Nusa Laut, Maluku, Indonesia
Gugur/Meninggal : Jumat Pon, 2 Januari 1818   di Laut Banda, Maluku, Indonesia
Zodiak : Capricorn       Shio, Unsur, Sifat : Kambing, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Karang Panjang, Ambon Maluku (Patung, Monumen yang menghadap laut)

Kategori : Perjuangan

 Pejuang Kemerdekaan yang unik yaitu seorang puteri remaja yang turut dalam pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817. Meninggal dalam tahanan Belanda.


Nyi Ageng Serang (Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 84/TK/1974, tanggal 13 Desember 1974

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 76 tahun
Lahir : 1752   di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : 1828   di Yogyakarta, Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo, DI Yogyakarta

Kategori : Perjuangan

 Salah satu Panglima Perang melawan Kolonial Belanda pada Perang Diponegoro. Penasehat siasat perang Pangeran Diponegroro. Puteri Panembahan Notoprojo. Keturunan Sunan Kalijaga, Nenek moyang Ki Hajar Dewantara.


Pakubuwana VI (Sri Susuhunan Pakubuwono VI, Sinuhun Bangun Tapa)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 42 tahun
Lahir : Minggu Wage, 26 April 1807   di Surakarta, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Sabtu Pahing, 2 Juni 1849   di Ambon, Maluku, Indonesia
Zodiak : Taurus       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Astana Imogiri, Kompleks Pemakaman Keluarga Raja Keturunan Mataram, Bantul, DIY.

Kategori : Perjuangan

 Raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1823 – 1830. Pendukung Perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Pasukan Kolonial Belanda.


Pakubuwana X (Sri Susuhunan Pakubuwono X)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 113/TK/2011, tanggal 7 November 2011

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 72 tahun
Lahir : Senin Kliwon, 29 November 1866   di Surakarta, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Rabu Pahing, 1 Februari 1939   di Surakarta, Jawa Tengah
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Macan, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Astana Imogiri, Kompleks Pemakaman Keluarga Raja Keturunan Mataram, Bantul, DIY.

Kategori : Perjuangan

 Raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1893 – 1939. Disebut sebagai Sinuhun Wicaksana atau Raja Besar dan Bijaksana. Pendukung berbagai kegiatan untuk kepentingan Indonesia (Pendirian Organisasi Sarekat Dagang Islam, Kongres Bahasa Indonesia I, penerbitan media massa, dsb).


Pangeran Antasari (Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 06/TK/1968, tanggal 27 Maret 1968

Berasal dari Kalimantan Selatan     Usia saat meninggal : 53 tahun
Lahir : 1809   di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 11 Oktober 1862   di Kampung Bayan Begok, Sampirang, Barito Utara, Kalimantan Tengah
Shio, Unsur, Sifat : Ular, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Kategori : Perjuangan

 Sultan Banjar. Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi. Memimpin Kerajaan Banjar melawan Pasukan Belanda.


Pattimura (Kapitan Pattimura, Thomas Matulessy)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 87/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari Maluku     Usia saat meninggal : 34 tahun
Lahir : Minggu Pahing, 8 Juni 1783   di Haria, Saparua, Maluku, Indonesia
Gugur/Meninggal : Selasa Legi, 16 Desember 1817   di New Victoria, Ambon, Maluku, Indonesia
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Ambon, Maluku (Pattimura Park/Taman Pattimura, Monumen Pattimura)

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin dan Panglima Perang Maluku melawan Pasukan Kolonial Belanda (Perang Pattimura). Memimpin Raja-raja Patih, Para Kapitan, dan Tua-tua Adat di Maluku. Menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, Raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa untuk berperang melawan pasukan Belanda.


Pong Tiku (Pongtiku, Nene Baso)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 73/TK/2002, tanggal 6 November 2002

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 61 tahun
Lahir : 1846   di Panggala Toraja Utara, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : Rabu Pon, 10 Juli 1907   di Sungai Sadan, Singki Rantepao, Toraja, Sulawesi Selatan
Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kecamatan Rinding Allo kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Kategori : Perjuangan

 Bangsawan Toraja. Panglima Perang di Tana Toraja dan Toraja Utara yang memimpin perlawanan terhadap Penjajah Belanda.


Raden Tumenggung Setia Pahlawan (Abdul Kadir)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 114/TK/1999, tanggal 13 November 1999

Berasal dari Kalimantan Barat     Usia saat meninggal : 104 tahun
Lahir : 1771   di Sintang, Kalimantan Barat
Gugur/Meninggal : 1875   di Tanjung Suka Dua, Melawi, Kalimantan Barat
Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Natali Mangguk Liang, Melawi, Kalimantan Barat

Kategori : Perjuangan

 Kepala Pemerintahan Melawi. Berperang melawan Pasukan Kolonial Belanda. Berhasil mengembangkan potensi perekonomian wilayah Melawi dan mempersatukan Suku Dayak dengan Melayu.


Radin Inten II (Radin Inten II gelar Kesuma Ratu)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 81/TK/1986, tanggal 23 Oktober 1986

Berasal dari Lampung     Usia saat meninggal : 22 tahun
Lahir : 1834   di Negara Ratu (Lampung), Indonesia
Gugur/Meninggal : Minggu Wage, 5 Oktober 1856   di Negara Ratu (Lampung), Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Desa Gedungharta, Kelurahan Cempaka, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan

Kategori : Perjuangan

 Raja di Negara Ratu (sekarang Provinsi Lampung), masih keturunan Fatahillah (Sunan Gunung Jati). Memperjuangkan kemakmuran rakyat Lampung dan memimpin Revolusi melawan Penjajah Belanda.


Raja Haji Fisabilillah (Pangeran Sutawijaya, Panembahan Senopati)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 72/TK/1997, tanggal 11 Agustus 1997

Berasal dari Riau     Usia saat meninggal : 59 tahun
Lahir : 1725   di Kota Lama, Ulusungai, Riau, Indonesia
Gugur/Meninggal : Jumat Pon, 18 Juni 1784   di Teluk Ketapang, Melaka (sekarang Malaysia).
Shio, Unsur, Sifat : Ular, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Pulau Penyengat, Indera Sakti, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Kategori : Perjuangan

 Raja (Yang Dipertuan Muda) Kerajaan Melayu Riau-Lingga-Johor-Pahang IV. Berhasil membangun pulau Biram Dewa di sungai Riau Lama. Memimpin Perlawanan terhadap Pasukan Kolonial Belanda. Seorang Pujangga Besar, Sastrawan yang berjasa besar meletakkan dasar-dasar Bahasa Indonesia.


Ranggong Daeng Romo
Pahlawan Nasional : Keppres No. 109/TK/2001, tanggal 3 November 2001

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 32 tahun
Lahir : 1915   di Kampung Bone-Bone, Polongbangkeng, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : Kamis Kliwon, 27 Februari 1947   di Markas besar Lapris, Langgese
Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks makam Desa Ko’mara Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Kategori : Perjuangan

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Pemimpin Laskar Lipan Bajeng. Panglima LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi), gabungan laskar-laskar di Sulawesi Selatan yang berperang melawan Belanda.


Sisingamangaraja XII (Raja Si Singamangaradja XII, Ompu Pulo Batu)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 62 tahun
Lahir : Selasa Pahing, 18 Februari 1845   di Bakkara, Tapanuli, Sumatra Utara.
Gugur/Meninggal : Senin Kliwon, 17 Juni 1907   di Desa Si Onom Hudon, perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi.
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige, Sumatera Utara.

Kategori : Perjuangan

 Maharaja di Negeri Toba, Sumatera Utara. Memimpin perjuangan secara bergerilya melawan Pasukan Kolonial Belanda dalam waktu yang cukup lama (30 tahun, 1877-1907). Dalam beberapa peperangan, beliau bekerjasama dengan pasukan dari Kerajaan Aceh.


Sultan Mahmud Badaruddin II (Raden Hasan Pangeran Ratu)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 63/TK/1984, tanggal 29 Oktober 1984

Berasal dari Sumatera Selatan     Usia saat meninggal : 84 tahun
Lahir : Senin Legi, 1 Rajab 1181 H (23 November 1767)   di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
Gugur/Meninggal : Minggu Wage, 26 September 1852   di Ternate, Maluku Utara, Indonesia
Zodiak : Sagitarius       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Pekuburan Islam Kelurahan Makassar Barat, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Indonesia.

Kategori : Perjuangan

 Raja terbesar di Kesultanan Palembang Darussalam (memerintah tahun 1803-1813 dan 1818-1821). Memimpin pertempuran melawan Penjajah Inggris dan Belanda, salah satu peperangan terbesar adalah Perang Menteng (dari kata Muntinghe) 11-15 Juni 1819 yang dimenangkan pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II. Pada Pertempuran terakhir 22 Mei – 24 Juni 1821, Belanda berhasil mengalahkan Kesultanan Palembang. Tanggal 13 Juli 1821, sultan beserta sebagian keluarganya diasingkan ke Pulau Ternate, Maluku Utara. Selama 31 tahun beliau diasingkan di Ternate, dan tanggal 26 September 1852, di Ternate, beliau meninggal dunia dalam usia 84 tahun.


Sultan Nuku (Nuku Muhammad Amiruddin Kaicil Paparangan)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 71/TK/1995, tanggal 7 Agustus 1995

Berasal dari Maluku Utara     Usia saat meninggal : 67 tahun
Lahir : 1738   di Soasiu, Tidore, Maluku Utara, Indonesia
Gugur/Meninggal : Kamis Legi, 14 November 1805   di Tidore, Maluku Utara, Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Makam Sultan Nuku, di Lingkungan Soambelo, Kelurahan Soa Sio, Tidore, Maluku Utara.

Kategori : Perjuangan

 Sultan (Raja) ke 30 di Kerajaan Tidore (Kesultanan Tidore), dan Tidore mencapai puncak kejayaannya pada saat diperintah Sultan Nuku. Beliau sekaligus sebagai Jou Barakati (Panglima Perang) yang memimpin Pertempuran laut maupun darat melawan Pasukan Kolonial Belanda, dengan cita-cita membebaskan seluruh kepulauan Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing.


Sultan Thaha Syaifuddin (Raden Thaha Adiningrat)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 79/TK/1977, tanggal 24 Oktober 1977

Berasal dari Jambi     Usia saat meninggal : 88 tahun
Lahir : 1816   di Istana Tanah Pilih Kampung Gedang Kerajaan Jambi, Jambi, Indonesia
Gugur/Meninggal : Selasa Pon, 26 April 1904   di Desa Betung Bedarah, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi.
Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Muara Tebo, Kabupaten Tebo, Jambi.

Kategori : Perjuangan

 Raja terakhir di Kesultanan Jambi. Memimpin perang melawan Pasukan Kolonial Belanda (dari 1855 – 1904, hampir 50 tahun). Terkenal sebagai raja/sultan yang rendah hati, senang bergaul dengan rakyatnya dan sangat membenci Belanda. Gugur (ditangkap dan dibunuh) dalam peperangan tahun 1904 pada usia 88 tahun.


Teuku Tjik Ditiro (Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 87/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari NAD (Aceh)     Usia saat meninggal : 55 tahun
Lahir : 1836   di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, Pidie, Aceh, Indonesia
Gugur/Meninggal : Januari 1891   di Benteng Aneuk Galong, Aceh Besar, Aceh, Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Pemakaman Pahlawan Nasional di kawasan Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, NAD, Indonesia.

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin Perang Sabil di Aceh melawan Pasukan Kolonial Belanda (1881 – 1891). Beliau terkenal sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi rakyat, agama dan bangsa.


Teuku Umar
Pahlawan Nasional : Keppres No. 87/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari NAD (Aceh)     Usia saat meninggal : 45 tahun
Lahir : 1854   di Meulaboh, Aceh Barat, NAD, Indonesia
Gugur/Meninggal : Sabtu Pon, 11 Februari 1899   di Meulaboh, Aceh Barat, NAD, Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Macan, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kampung Mugo, Meulaboh, Aceh Barat, NAD, Indonesia.

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin Gerilya Aceh yang berperang melawan Pasukan Kolonial Belanda pada masa perang Aceh (1873-1904). Seluruh komando perang Aceh mulai tahun 1896 berada di bawah pimpinan Teuku Umar. Pertama kali dalam sejarah perang Aceh, tentara Aceh dipegang oleh satu komando, yaitu Teuku Umar. Suami Cut Nyak Dhien (juga Pahlawan Nasional).


Tuanku Tambusai (Tuanku Haji Muhammad Saleh)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 71/TK/1995, tanggal 7 Agustus 1995

Berasal dari Riau     Usia saat meninggal : 98 tahun
Lahir : Jumat Pon, 5 November 1784   di Dalu-dalu, Nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau, Indonesia.
Gugur/Meninggal : Minggu Pon, 12 November 1882   di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia
Zodiak : Scorpio       Shio, Unsur, Sifat : Naga, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia

Kategori : Perjuangan

 Memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk berperang melawan Pasukan Kolonial Belanda dalam Perang Padri bersama Tuanku Imam Bonjol. Terkenal sebagai “De Padrische Tijger van Rokan” (Harimau Paderi dari Rokan). Penyebar Agama Islam.


Untung Suropati (Tumenggung Wironegoro, Surawiroaji)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 106/TK/1975, tanggal 3 November 1975

Berasal dari Jawa Timur dan Bali     Usia saat meninggal : 46 tahun
Lahir : 1660   di Bali, Indonesia
Gugur/Meninggal : Minggu Pon, 5 Desember 1706   di Bangil, Jawa Timur, Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : 1. Bantul – Yogyakarta, 2. Mancilan – Pasuruan, 3. Belik – Pasuruan, 4. Kebon Agung – Pasuruan, 5. Bangil, 6. Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin banyak Pertempuran di sebagian besar wilayah Jawa Timur melawan Pasukan Kolonial Belanda (VOC). Anak dari Bangsawan Bali yang berasal dari keturunan Prabu Kertajaya (Raja terakhir Panjalu/Kediri). Menjadi Raja/Adipati di Pasuruan dan bergelar Tumenggung Wironegoro (Raden Adipati Wironegoro). Terkenal sebagai Raja yang Pemberani dan Berhati Mulia.


Zainal Mustafa (K.H. Zaenal Moesthofa, Hoedaeni)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 64/TK/1972, tanggal 6 November 1972

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 45 tahun
Lahir : 1899   di Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Rabu Kliwon, 25 Oktober 1944   di Ancol, Jakarta Utara, Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Babi, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Sukamanah, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kategori : Perjuangan

 Pemimpin perjuangan/pertempuran melawan penjajah Jepang di Tasikmalaya. Salah satu yang terkenal adalah Pertempuran Singaparna (25 Februari 1944). Pendiri sekaligus Pemimpin Pondok Pesantren Sukamanah di Tasikmalaya. Terkenal sebagai Ulama yang Berani, Tegas, dan anti penjajahan.


Tirto Adi Suryo (Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, TAS)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 85/TK/2006, tanggal 3 November 2006

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 38 tahun
Lahir : 1880   di Blora, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 7 Desember 1918   di Jakarta, Indonesia.
Shio, Unsur, Sifat : Naga, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Pemakaman Blender, Kebon Pedes, Bogor, Jawa Barat

Kategori : Pers

 Bapak Pers Nasional. Tokoh Kebangkitan Nasional Indonesia. Perintis Persuratkabaran dan Kewartawanan Nasional Indonesia. Menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Redaktur Pembrita Betawi. Salah satu Pendiri Sarikat Dagang Islam (SDI).


Abdul Halim (K.H. Abdoel Halim)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 41/TK/2008, tanggal 6 November 2008

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 74 tahun
Lahir : Minggu Kliwon, 26 Juni 1887   di Desa Cibolerang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Kamis Pon, 17 Mei 1962   di Desa Pasirayu, Kecamatan Sukahaji, Majalengka, Jawa Barat
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : MPN KH Abdul Halim, Kompleks Pondok Pesantren Santi Asromo, Desa Pasirayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Kategori : Politik

 K.H. Abdoel Halim adalah Pejuang Kemerdekaan, Penulis, Pendidik, dan Organisatoris Ulung. Anggota BPUPKI (1945). Anggota Komite Nasional indonesia Pusat (KNIP) dan Anggota Konstituante (tahun 1955). Bupati Majalengka, Pendiri Pesantren Santi Asromo dan sekolah lainnya (tahun 1942). Pendiri Majlis Ilmu (tahun 1911). Pendiri Hayatul Qulub (tahun 1912), Pendiri sekolah/madrasah Jam’iyah I’anah al-Muta’alimin (tahun 1916), Pendiri Persyarikatan Ulama, Fatimiyah beserta usaha pendukungnya (tahun 1917).


Achmad Subardjo (Prof. Mr. R. Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 58/TK/2009, tanggal 9 November 2009

Berasal dari DKI Jakarta     Usia saat meninggal : 82 tahun
Lahir : Senin Pon, 23 Maret 1896   di Karawang, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Jumat Wage, 15 Desember 1978   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Cipayung, Bogor, Jawa Barat.

Kategori : Politik

 Tokoh Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Diplomat. Anggota BPUPKI dan PPKI. Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama.


Adam Malik (H. Adam Malik Batubara)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 107/TK/1998, tanggal 6 November 1998

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 67 tahun
Lahir : Minggu Pon, 22 Juli 1917   di Pematang Siantar, Sumatera Utara
Gugur/Meninggal : Rabu Kliwon, 5 September 1984   di Bandung, Jawa Barat
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Politik

 Wartawan dan Aktivis Kemerdekaan. Wakil Presiden Indonesia. Wakil Perdana Menteri. Ketua Majelis Umum PBB. Menteri beberapa Departemen. Pelopor berdirinya Kantor Berita Antara.


Adenan Kapau Gani (Mayjen. dr. Adnan Kapau Gani)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 66/TK/2007, tanggal 9 November 2007

Berasal dari Sumatera Selatan     Usia saat meninggal : 63 tahun
Lahir : Sabtu Legi, 16 September 1905   di Palembayan, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Senin Kliwon, 23 Desember 1968   di Rumah Sakit Charitas Palembang, Sumatera Selatan
Zodiak : Virgo       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang, Sumatera Selatan.

Kategori : Politik

 Aktivis Kemerdekaan. Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kemakmuran. Gubernur Militer Sumatera Selatan. Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian. Rektor Universitas Sriwijaya.


Alimin
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 163 Tahun 1964, tanggal 26 Juni 1964

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 75 tahun
Lahir : 1889   di Solo, Jawa Tengah, Indonesia
Gugur/Meninggal : Rabu Pahing, 24 Juni 1964   di Jakarta, Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Kerbau, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Politik

 Tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia serta tokoh komunis Indonesia


Arie Frederik Lasut (A.F. Lasut)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 12/TK/1969, tanggal 20 Mei 1969

Berasal dari Sulawesi Utara     Usia saat meninggal : 30 tahun
Lahir : Sabtu Pahing, 6 Juli 1918   di Kapataran, Lembean Timur, Minahasa, Sulawesi Utara
Gugur/Meninggal : Sabtu Kliwon, 7 Mei 1949   di Pakem, Sleman, Yogyakarta
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : TPU Sasanalaya, Jl Ireda No. 4 Yogyakarta.

Kategori : Politik

 Kepala Pertambangan dan Geologi RI ke 1. Terlibat dalam perang kemerdekaan Indonesia serta pengembangan pertambangan dan geologi. Akhirnya ditembak mati oleh Belanda.


Cipto Mangunkusumo (dr. Tjipto Mangoenkoesoemo)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 109 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 57 tahun
Lahir : 1886   di Pecangakan, Ambarawa, Semarang
Gugur/Meninggal : Senin Pon, 8 Maret 1943   di Jakarta, Indonesia
Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Ambarawa, Jawa Tengah.

Kategori : Politik

 Tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ketua Komite Bumi Putera. Tokoh Indische Partij. Bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantoro dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.


Douwes Dekker (Dr. Ernest Douwes Dekker, Danudirja Setiabudi, Setyabudi)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 70 tahun
Lahir : Rabu Pahing, 8 Oktober 1879   di Pasuruan, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Senin Pon, 28 Agustus 1950   di Bandung, Jawa Barat
Zodiak : Libra       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung, Jawa Barat.

Kategori : Politik

 Pejuang Pergerakan Kemerdekaan Indonesia, Politikus, Wartawan, Aktivis, Penulis. Salah satu dari “Tiga Serangkai”. Penggagas nama “Nusantara”. Peletak dasar nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20.


Fatmawati (Hj. Fatmawati Soekarno)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 118/TK/2000, tanggal 4 November 2000

Berasal dari Bengkulu     Usia saat meninggal : 57 tahun
Lahir : Senin Pahing, 5 Februari 1923   di Bengkulu, Indonesia
Gugur/Meninggal : Rabu Kliwon, 14 Mei 1980   di Kuala Lumpur, Malaysia
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : TPU Karet Bivak, Jakarta

Kategori : Politik

 Penjahit Bendera Nasional Indonesia Pertama, Aktivis Sosial, Istri Presiden Sukarno


FL Tobing (dr. Ferdinand Lumbantobing)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 361 Tahun 1962, tanggal 17 November 1962

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 63 tahun
Lahir : Minggu Legi, 19 Februari 1899   di Sibuluan, Sibolga, Sumatera Utara
Gugur/Meninggal : Minggu Legi, 7 Oktober 1962   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Aquarius – Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara

Kategori : Politik

 Dokter dan Politisi, Berjuang untuk Hak-Hak Pekerja Paksa. Gubernur Sumatera Utara. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Menteri Penerangan. Menteri Kesehatan.


Frans Kaisiepo
Pahlawan Nasional : Keppres No. 77/TK/1993, tanggal 14 September 1993

Berasal dari Papua     Usia saat meninggal : 57 tahun
Lahir : Senin Wage, 10 Oktober 1921   di Wardo, Biak, Papua, Indonesia
Gugur/Meninggal : Selasa Kliwon, 10 April 1979   di Jayapura, Papua, Indonesia
Zodiak : Libra       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Cendrawasih, Jayapura, Papua, Indonesia.

Kategori : Politik

 Nasionalis Papua dan Aktivis Kemerdekaan Indonesia yang membantu Pembentukan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Gubernur Papua ke 4.


Gatot Mangkupraja (Gatot Mangkoepradja)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 89/TK/2004, tanggal 5 November 2004

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 69 tahun
Lahir : Minggu Kliwon, 25 Desember 1898   di Sumedang, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Jumat Kliwon, 4 Oktober 1968   di Bandung, Jawa Barat
Zodiak : Capricorn       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Pemakaman Umum Sirnaraga, Bandung, Jawa Barat.

Kategori : Politik

 Aktivis Kemerdekaan dan Politisi. Yang mengusulkan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (PETA).


H.O.S. Tjokroaminoto  (Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 52 tahun
Lahir : Rabu Kliwon, 16 Agustus 1882   di Desa Bukur Madiun, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Senin Kliwon, 17 Desember 1934   di Yogyakarta, Indonesia
Zodiak : Leo       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Pekuncen, Wirobrajan, Yogyakarta.

Kategori : Politik

 Guru para Pemimpin-Pemimpin Besar di Indonesia. Pelopor Pergerakan di Indonesia. Pemimpin Organisasi SI (Sarekat Islam).


Hamengkubuwana IX (Sri Sultan Hamengkuwubono IX)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 53/TK/1990, tanggal 30 Juli 1990

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 76 tahun
Lahir : Jumat Legi, 12 April 1912   di Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Minggu Pon, 2 Oktober 1988   di Washington, D.C., Amerika Serikat
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Astana Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta

Kategori : Politik

 Raja Kesultanan Yogyakarta. Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Wakil Presiden Indonesia Kedua. Gubernur DIY Pertama. Menteri Koordinator Perekonomian Pertama. Menteri Pertahanan. Bapak Pramuka Indonesia.


Herman Johannes (Prof. Dr. Ir. Herman Johannes)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 58/TK/2009, tanggal 9 November 2009

Berasal dari NTT (Nusa Tenggara Timur)     Usia saat meninggal : 80 tahun
Lahir : Selasa Pahing, 28 Mei 1912   di Rote, NTT, Indonesia
Gugur/Meninggal : Sabtu Wage, 17 Oktober 1992   di Yogyakarta, Indonesia
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Pemakaman Keluarga UGM di Sawitsari, Caturtunggal, Depok, Yogyakarta

Kategori : Politik

 Cendekiawan, Politikus, Ilmuwan Indonesia. Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia ke-7. Banyak mengabdikan dirinya (ilmunya) untuk kebutuhan rakyat kecil. Rektor Universitas Gadjah Mada ke 2.


HR. Rasuna Said (Hajjah Rangkayo Rasuna Said)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 84/TK/1974, tanggal 13 Desember 1974

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 55 tahun
Lahir : Rabu Kliwon, 14 September 1910   di Maninjau, Agam, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Selasa Pon, 2 November 1965   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Virgo       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Politik

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Penggiat Hak-Hak Perempuan. Anggota DPR RIS. Anggota DPA.


I Gusti Ketut Puja (Mr. I Goesti Ketoet Poedja)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 113/TK/2011, tanggal 7 November 2011

Berasal dari Bali     Usia saat meninggal : 68 tahun
Lahir : Selasa Pahing, 19 Mei 1908   di Singaraja, Bali, Indonesia
Gugur/Meninggal : Rabu Wage, 4 Mei 1977   di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Zodiak : Taurus       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Bali (Monumen)

Kategori : Politik

 Gubernur Sunda Kecil (Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Timor). Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Menteri Kehakiman. Ketua BPK (Badan Pengawas Keuangan).


I.J. Kasimo H. (Mr. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 113/TK/2011, tanggal 7 November 2011

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 86 tahun
Lahir : Selasa Legi, 10 April 1900   di Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Jumat Kliwon, 1 Agustus 1986   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Politik

 Pelopor Kemerdekaan Indonesia. Menteri Perdagangan ke 5. Menteri Pertanian ke 6. Pendiri Partai Politik Katolik Indonesia. Anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung).


Ida Anak Agung Gde Agung (Mr. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 66/TK/2007, tanggal 9 November 2007

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 77 tahun
Lahir : Minggu Legi, 24 Juli 1921   di Gianyar, Bali, Indonesia
Gugur/Meninggal : Kamis Pahing, 22 April 1999   di Gianyar, Bali, Indonesia
Zodiak : Leo       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Puri Agung Gianyar, Bali (Monumen).

Kategori : Politik

 Raja Gianyar Bali. Aktivis Kemerdekaan Indonesia, Ahli Sejarah, Tokoh Politik Indonesia. Menteri Dalam Negeri. Menteri Luar Negeri. Duta Besar RI di Belgia, Portugal, Perancis, Austria.


Idham Chalid (Dr. HC K.H. Idham Chalid)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 113/TK/2011, tanggal 7 November 2011

Berasal dari Kalimantan Selatan     Usia saat meninggal : 88 tahun
Lahir : Sabtu Kliwon, 27 Agustus 1921   di Satui, Kalimantan Selatan
Gugur/Meninggal : Minggu Kliwon, 11 Juli 2010   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Virgo       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Kategori : Politik

 Ketua MPR ke 3, Ketua DPR ke 5, Ketua DPA, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat ke 1. Wakil Perdana Menteri. Ketua Umum PBNU 1956 – 1984 (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).


Iwa Kusumasumantri (Prof. Mr. Iwa Koesoema Soemantri)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 73/TK/2002, tanggal 6 November 2002

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 72 tahun
Lahir : Rabu Pahing, 31 Mei 1899   di Ciamis, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Sabtu Wage, 27 November 1971   di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : TPU Karet Bivak, Jakarta

Kategori : Politik

 Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, Rektor Pertama UNPAD. Menteri Sosial dan Perburuhan ke 1. Menteri Pertahanan.


Izaak Huru Doko (Izaac Huru Doko)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 85/TK/2006, tanggal 3 November 2006

Berasal dari NTT (Nusa Tenggara Timur)     Usia saat meninggal : 71 tahun
Lahir : Kamis Pon, 20 November 1913   di Seba, Pulau Sabu, Kupang, Nusa Tenggara Timur
Gugur/Meninggal : Senin Pahing, 29 Juli 1985   di Kupang, Nusa Tenggara Timur
Zodiak : Scorpio       Shio, Unsur, Sifat : Kerbau, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Kupang, Nusa Tenggara Timur (Monumen & Patung)

Kategori : Politik

 Aktivis Kemerdekaan dan Pendidik. Menteri Pengajaran NIT. Menteri Muda Penerangan NIT. Penggagas berdirinya Universitas Udayana di Denpasar Bali (1959) dan Undana Kupang (1962).


J. Leimena (dr. Johanes Leimena)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 52/TK/2010, tanggal 11 November 2010

Berasal dari Maluku     Usia saat meninggal : 72 tahun
Lahir : Senin Pahing, 6 Maret 1905   di Ambon, Maluku
Gugur/Meninggal : Selasa Pon, 29 Maret 1977   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta

Kategori : Politik

 Wakil Perdana Menteri, Menteri Kesehatan, Menteri Sosial, Menteri Distribusi, Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, Ketua Umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Pendiri GMKI.


J.A. Dimara (Mayor TNI Johannes Abraham Dimara)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 52/TK/2010, tanggal 11 November 2010

Berasal dari Papua     Usia saat meninggal : 84 tahun
Lahir : Minggu Legi, 16 April 1916   di Korem, Biak Utara, Papua
Gugur/Meninggal : Jumat Wage, 20 Oktober 2000   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Naga, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Politik

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia di Papua terhadap Belanda. Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat). Bersama Bung Karno ikut menyerukan Trikora di Yogyakarta.


Juanda Kartawijaya (Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 244 Tahun 1963, tanggal 6 November 1963

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 52 tahun
Lahir : Sabtu Pahing, 14 Januari 1911   di Tasikmalaya, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Kamis Pahing, 7 November 1963   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Capricon       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Politik

 Perdana Menteri Indonesia Terakhir, Menteri Keuangan ke 11, Menteri Pertahanan ke 11, Menteri Pekerjaan Umum ke 5, Menteri Perhubungan ke 3. Deklarasi Djuanda tahun 1957 (Negara Kepulauan NKRI).


Kusumah Atmaja (Prof. Dr. R. Soelaiman Effendi Koesoemah Atmadja, SH.)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 124 Tahun 1965, tanggal 14 Mei 1965

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 53 tahun
Lahir : Kamis Pahing, 8 September 1898   di Purwakarta, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Senin Pahing, 11 Agustus 1952   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Virgo       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Politik

 Ketua Mahkamah Agung Pertama. Anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).


L. N. Palar (Mr. Lambertus Nicodemus Palar)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 68/TK/2013, tanggal 6 November 2013

Berasal dari Sulawesi Utara     Usia saat meninggal : 80 tahun
Lahir : Selasa Pahing, 5 Juni 1900   di Rurukan, Tomohon, Sulawesi Utara
Gugur/Meninggal : Senin Pon, 12 Februari 1981   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Tikus, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Politik

 Diplomat, Perunding dalam Usaha Pengakuan Internasional Kemerdekaan Indonesia. Duta Besar RI untuk PBB. Duta Besar RI di India, Jerman Timur, Uni Soviet, Amerika Serikat,


M.H. Thamrin (Mohammad Husni Thamrin)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 175 Tahun 1960, tanggal 28 Juli 1960

Berasal dari DKI Jakarta     Usia saat meninggal : 46 tahun
Lahir : Jumat Pahing, 16 Februari 1894   di Weltevreden, Batavia (Jakarta, Indonesia)
Gugur/Meninggal : Sabtu Pahing, 11 Januari 1941   di Senen, Batavia (Jakarta, Indonesia)
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : TPU (Pemakaman Umum) Karet, Jakarta.

Kategori : Politik

 Politikus dan Aktivis Kemerdekaan. Tokoh Betawi yang pertama kali menjadi anggota Volksraad (“Dewan Rakyat”) di Hindia Belanda, mewakili kelompok Inlanders (“pribumi”).


Maskun Sumadireja (Maskoen Soemadiredja)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 89/TK/2004, tanggal 5 November 2004

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 78 tahun
Lahir : Sabtu Pahing, 25 Mei 1907   di Bandung, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 4 Januari 1986   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Kambing, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Politik

 Aktivis Kemerdekaan Indonesia, Politisi.


Moh. Hatta (Dr. HC Drs. H. Mohammad Hatta)
Pahlawan Proklamator : Keppres No. 81/TK/1986, tanggal 23 Oktober 1986
Pahlawan Nasional : Keppres No. 84/TK/2012, tanggal 7 November 2012

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 77 tahun
Lahir : Selasa Kliwon, 12 Agustus 1902   di Bukit Tinggi, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Jumat Wage, 14 Maret 1980   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Leo       Shio, Unsur, Sifat : Macan, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

Kategori : Politik

 Aktivis Kemerdekaan Indonesia. Proklamator RI, Negarawan, Ekonom, Administrator. Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia. Perdana Menteri ke 3. Menteri Pertahanan ke 4. Bapak Koperasi Indonesia.


Muwardi (dr. Moewardi, Sp.THT.)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 190 Tahun 1964, tanggal 4 Agustus 1964

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 41 tahun
Lahir : 1907   di Pati, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Rabu Wage, 13 Oktober 1948   di Surakarta (Solo), Jawa Tengah
Shio, Unsur, Sifat : Kambing, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : RS. dr. Muwardi Surakarta, Jawa Tengah (Monumen/Patung)

Kategori : Politik

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Komisaris Besar Kepanduan Bangsa Indonesia. Pemimpin Redaksi Majalah Jong-Java. Ketua Jong-Java Cabang Jakarta. Turut mengikrarkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Menangani Keamanan saat Proklamasi Kemerdekaan.


Nani Wartabone (H. Nani Wartabone)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 85/TK/2003, tanggal 6 November 2003

Berasal dari Gorontalo     Usia saat meninggal : 78 tahun
Lahir : Rabu Pahing, 30 Januari 1907   di Kampung Suwawa, Gorontalo
Gugur/Meninggal : Jumat Kliwon, 3 Januari 1986   di Suwawa, Gorontalo
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Nani Wartabone, Desa Bube (Kec. Suwawa), Kab. Bone Bolango, Gorontalo.

Kategori : Politik

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Proklamator Kemerdekaan Indonesia 23 Januari 1942 di Gorontalo. Residen Sulawesi Utara. Kepala pemerintahan di Gorontalo, Kepala Daerah Sulawesi Utara. Anggota MPRS, Anggota DPRGR, Anggota Dewan Perancang Nasional, Anggota DPA.


Oto Iskandar Dinata (Jalak Harupat, Raden Otto Iskandar di Nata)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 88/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari Jawa Barat     Usia saat meninggal : 48 tahun
Lahir : Rabu Legi, 31 Maret 1897   di Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat
Gugur/Meninggal : Kamis Legi, 20 Desember 1945   di Mauk, Tangerang, Banten
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : MPN Oto Iskandar Dinata, Pasir Pahlawan, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat

Kategori : Politik

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Anggota BPUPKI dan PPKI. Ketua Paguyuban Pasundan. Anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung dan Pekalongan. Pemimpin Surat Kabar Tjahaja (1942-1945).


Pangeran Sambernyowo (KGPAA Mangkunegoro I, Raden Mas Said)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 48/TK/1988, tanggal 17 Agustus 1988

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 70 tahun
Lahir : Sabtu Legi, 7 April 1725   di Kraton Kartasura, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Senin Pon, 28 Desember 1795   di Surakarta, Jawa Tengah
Zodiak : Aries       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Astana Mangadeg (Komplek Makam Raja-raja Mangkunegara I, II, III), Desa Karang Bangun Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Kategori : Politik

 Pendiri Praja Mangkunegaran, Pendiri Istana Mangkunegaran. Memimpin Perjuangan melawan Penjajah Belanda di Jawa Tengah. Dikenal dekat dengan rakyat. Julukan Pangeran Sambernyawa diberikan VOC, karena dalam setiap peperangan selalu membawa kematian bagi lawannya.


Rajiman Wedyodiningrat (dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, M.Art)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 68/TK/2013, tanggal 6 November 2013

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 73 tahun
Lahir : Senin Pahing, 21 April 1879   di Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Sabtu Pahing, 20 September 1952   di Ngawi, Jawa Timur, Indonesia
Zodiak : Taurus       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Makam Pahlawan Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Malati, Sleman, Yogyakarta

Kategori : Politik

 Tokoh Pendiri Republik Indonesia. Pendiri dan Ketua organisasi Boedi Oetomo. Ketua BPUPKI. Anggota DPA. Pemimpin sidang DPR pertama saat Indonesia menjadi NKRI. Dokter ahli penyakit pes.


Saharjo (Dr. Sahardjo, SH.)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 245 Tahun 1963, tanggal 29 November 1963

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 54 tahun
Lahir : Sabtu Kliwon, 26 Juni 1909   di Solo, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Rabu Pon, 13 November 1963   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Politik

 Tokoh penting dalam reformasi hukum di Indonesia. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia ke-11. Hasil buah pemikirannya yang penting adalah Undang-undang Warga Negara Indonesia tahun 1947 dan Undang-undang Pemilihan Umum tahun 1953.


Samanhudi (Kyai Haji Samanhudi)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 88 tahun
Lahir : 1868   di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Jumat Pahing, 28 Desember 1956   di Klaten, Jawa Tengah
Shio, Unsur, Sifat : Naga, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kategori : Politik

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Pendiri dan Ketua Sarekat Dagang Islam (SDI). Ketua Kehormatan SI (Sarekat Islam). Pendiri Barisan Pemberontak Indonesia Cabang Solo dan Gerakan Persatuan Pancasila untuk melawan Belanda, serta membentuk laskar Gerakan Kesatuan Alap-alap.


Sukarjo Wiryopranoto (Soekardjo Wirjopranoto)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 342 Tahun 1962, tanggal 29 Oktober 1962

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 59 tahun
Lahir : Jumat Pahing, 5 Juni 1903   di Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Selasa Pahing, 23 Oktober 1962   di New York, Amerika Serikat
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Politik

 Perintis Kemerdekaan Indonesia. Pendiri Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) bersama dr. Soetomo. Anggota Volksraad. Sekretaris Gabungan Politik Indonesia (Gapi). Memimpin surat kabar Asia Raya. Pembina majalah Mimbar Indonesia. Duta Besar di Italia, Vatikan, RRC. Wakil Tetap Indonesia di PBB.


Sukarno (Dr. HC Ir. H. Soekarno)
Pahlawan Proklamator : Keppres No. 81/TK/1986, tanggal 23 Oktober 1986
Pahlawan Nasional : Keppres No. 83/TK/2012, tanggal 7 November 2012

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 69 tahun
Lahir : Kamis Pon, 6 Juni 1901   di Surabaya, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Minggu Kliwon, 21 Juni 1970   di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta.
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Kerbau, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Kompeks Makam Soekarno, Blitar, Jawa Timur

Kategori : Politik

 Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama Mohammad Hatta). Presiden Indonesia Pertama. Mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari 26 universitas terkemuka di Dunia. Pendiri Partai Nasional Indonesia. Pemrakarsa Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok. Anggota BPUPKI, Ketua Panitia Perancang UUD, Ketua PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).


Sultan Daeng Raja (Hadji Andi Sultan Daeng Radja)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 85/TK/2006, tanggal 3 November 2006

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 68 tahun
Lahir : Minggu Kliwon, 20 Mei 1894   di Matekko, Gantarang,
Gugur/Meninggal : Jumat Pon, 17 Mei 1963   di Rumah Sakit Pelamonia Makassar, Sulawesi Selatan
Zodiak : Taurus       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Di belakang Mesjid Raya Ponre, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan

Kategori : Politik

 Tokoh Kemerdekaan Indonesia. Regen (Kepala Adat) Gantarang. Turut aktif dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Bupati Daerah Bantaeng (Sulawesi Selatan). Anggota Konstituante Indonesia. Turut aktif dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pemrakarsa pembentukan organisasi Persatuan Pergerakan Nasional Indonesia (PPNI).


Supomo (Prof. Dr. Mr. Soepomo)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 123 Tahun 1965, tanggal 14 Mei 1965

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 55 tahun
Lahir : Kamis Pon, 22 Januari 1903   di Sukoharjo, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Jumat Kliwon, 12 September 1958   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Macan, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Makam Keluarga di Kampung Yosoroto, Solo, Jawa Tengah.

Kategori : Politik

 Menteri Kehakiman Pertama (dua kali menjadi Menteri Kehakiman). Profesor hukum yang dikenal sebagai “arsitek” ilmu hukum adat Indonesia dan ahli hukum internasional. Soepomo juga arsitek Undang-undang Dasar 1945, bersama Muhammad Yamin dan Sukarno. Presiden (Rektor) Universitas Indonesia (1951-1954).


Suroso (Raden Pandji Soeroso)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 81/TK/1986, tanggal 23 Oktober 1986

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 87 tahun
Lahir : Jumat Pahing, 3 November 1893   di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Sabtu Pahing, 16 Mei 1981   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Scorpio       Shio, Unsur, Sifat : Ular, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Mojokerto, Jawa Timur

Kategori : Politik

 Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia. Anggota Boedi Oetomo. Gubernur Jawa Tengah Pertama. Wakil ketua BPUPKI, Anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ke-4. Menteri Sosial ke-10. Menteri Pekerjaan Umum ke-12.


Suryopranoto (Raden Mas Soerjopranoto)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 310 Tahun 1959, tanggal 30 November 1959

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 88 tahun
Lahir : Rabu Kliwon, 11 Januari 1871   di Yogyakarta, Indonesia
Gugur/Meninggal : Kamis Pon, 15 Oktober 1959   di Cimahi, Jawa Barat
Zodiak : Capricorn       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Kotagede, Yogyakarta

Kategori : Politik

 Tokoh Pejuang Hak-Hak Pekerja dan Pendidikan pada masa Penjajahan Belanda, Jepang, dan Kemerdekaan Indonesia. Kakak Ki Hajar Dewantara. Mengorganisir Arbeidsleiger (tentara buruh). Pendiri PFB (Personeel Fabriek Bond, Ikatan Buruh Pabrik) sejak 1917. Pemrakarsa terbitnya koran Boeroeh Bergerak. Pengurus SI (Sarekat Islam). Anggota Kehormatan Dewan Rakyat.


Sutan Syahrir (Soetan Sjahrir)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 76 Tahun 1966, tanggal 9 April 1966

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 57 tahun
Lahir : Jumat Pahing, 5 Maret 1909   di Padang Panjang, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 9 April 1966   di Zurich, Swiss
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Politik

 Perdana Menteri Indonesia Pertama (Perdana Menteri termuda di dunia, usia 36 th). Menteri Dalam Negeri ke dua. Menteri Luar Negeri ke dua. Pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI). Pemimpin Redaksi Majalah Himpunan Pemuda Nasionalis. Penggagas Pendirian Himpunan Pemuda Nasionalis (1927), Jong Indonesie (Pemuda Indonesia) yang menjadi motor Konggres Pemuda Indonesia (1928). Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI Baru), 1932. Ketua delegasi RI pada Perundingan Linggarjati. Duta Besar Keliling (Ambassador-at-Large) RI.


Syafruddin Prawiranegara (Mr. Sjafruddin Prawiranegara)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 113/TK/2011, tanggal 7 November 2011

Berasal dari Sumatera Barat & Banten     Usia saat meninggal : 77 tahun
Lahir : Selasa Pahing, 28 Februari 1911   di Anyer Kidul, Serang, Banten
Gugur/Meninggal : Rabu Wage, 15 Februari 1989   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Pemekaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta

Kategori : Politik

 Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Wakil Perdana Menteri. Menteri Keuangan. Menteri Kemakmuran (Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian). Menteri Penerangan. Presiden Direktur Javasche Bank. Pimpinan Masyumi. Ketua Korp Mubalig Indonesia (KMI). Gubernur Bank Indonesia Pertama.


Tan Malaka (Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 53 Tahun 1963, tanggal 28 Maret 1963

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 51 tahun
Lahir : Rabu Wage, 2 Juni 1897   di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Senin Kliwon, 21 Februari 1949   di Kaki Gunung Wilis, Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur.
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Api, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Kaki Gunung Wilis, Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur.

Kategori : Politik

 Aktivis Kemerdekaan Indonesia. Seorang Filsuf, Nasionalis, Penggagas berdirinya Republik Indonesia (1924), Penggagas dialog Komunis dengan Islam. Pada kongres PKI 24-25 Desember 1921 diangkat sebagai Pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI). Pendiri Partai Republik Indonesia (PARI). Perintis Pendirian Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak).


Teuku Nyak Arief
Pahlawan Nasional : Keppres No. 71/TK/1974, tanggal 9 November 1974

Berasal dari NAD (Aceh)     Usia saat meninggal : 46 tahun
Lahir : Senin Wage, 17 Juli 1899   di Ulee Lheue, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia
Gugur/Meninggal : Sabtu Legi, 4 Mei 1946   di Takengon, Aceh Tengah, NAD, Indonesia
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Tanah pemakaman keluarga di Lamreung (dua kilometer dari Lamnyong), Banda Aceh, NAD, Indonesia.

Kategori : Politik

 Pejuan Kemerdekaan Indonesia. Bangsawan Aceh, Orator Ulung. Gubernur Pertama Aceh (Residen). Ketua National Indische Partij cabang Kutaraja (1919). Panglima Sagi XXVI Mukim wilayah Aceh Besar. Anggota Dewan Rakyat Volksraad. Pendiri Fraksi Nasional di Dewan Rakyat. Pendiri Perguruan Taman Siswa di Kutaraja (bersama Mr. Teuku Muhammad Hasan). Pemimpin gerakan bawah tanah menentang penjajahan Belanda di Aceh (sejak 1932).


Zainul Arifin (Kiai Haji Zainul Arifin Pohan)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 35 Tahun 1963, tanggal 4 Maret 1963

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 53 tahun
Lahir : Kamis Pon, 2 September 1909   di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara
Gugur/Meninggal : Sabtu Pahing, 2 Maret 1963   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Virgo       Shio, Unsur, Sifat : Ayam, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Politik

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Seorang politisi Nahdlatul Ulama (NU) terkemuka yang sejak remaja di zaman penjajahan Belanda sudah aktif dalam organisasi kepemudaan NU, GP Ansor. Panglima Pasukan Semi-militer Hizbullah. Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP). Wakil Perdana Menteri Indonesia (30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955). Ketua Dewan Perwakilan Rakyat ke-2 (DPRGR, 1960 – 1963).


Ahmad Yani (Jenderal Achmad Yani)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 111/KOTI/1965, tanggal 5 Oktober 1965

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 43 tahun
Lahir : Senin Legi, 19 Juni 1922   di Purworejo, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Lubang Buaya, Jakarta
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Revolusi

 Pejuang Kemerdekaan. Menteri/Panglima Angkatan Darat (KSAD), korban kebiadaban (dibunuh) Gerakan 30 September.


D.I. Pandjaitan (Mayjen. Donald Isaac Panjaitan)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 111/KOTI/1965, tanggal 5 Oktober 1965

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 40 tahun
Lahir : Jumat Pahing, 19 Juni 1925   di Balige, Sumatra Utara
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Lubang Buaya, Jakarta
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Kerbau, Kayu, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Revolusi

 Jenderal Angkatan Darat, Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat, korban kebiadaban (dibunuh) Gerakan 30 September


K.S. Tubun (Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 114/KOTI/1965, tanggal 5 Oktober 1965

Berasal dari Maluku     Usia saat meninggal : 36 tahun
Lahir : Minggu Kliwon, 14 Oktober 1928   di Tual, Maluku, Indonesia
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Libra       Shio, Unsur, Sifat : Naga, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Revolusi

 Brigadir Polisi. Korban kebiadaban (dibunuh) Gerakan 30 September saat mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri, Dr. J. Leimena di Jakarta, yang bertetangga dengan Jenderal A.H. Nasution.


Katamso D. (Brigjen. Katamso Darmokusumo)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 118/KOTI/1965, tanggal 19 Oktober 1965

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 42 tahun
Lahir : Senin Pahing, 5 Februari 1923   di Sragen, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Kentungan, Yogyakarta
Zodiak : Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Negara Semaki, Yogyakarta

Kategori : Revolusi

 Brigadir Jenderal TNI Angkatan Darat. Dan Rem 072/Pamungkas DIY. Brigjen. Katamso bersama Wakil Dan Rem 072 Kolonel Sugiyono menjadi korban kebiadaban (dianiaya dan dibunuh) oleh Gerakan 30 September di Kentungan, Yogyakarta.


M.T. Haryono (Letjen. Mas Tirtodarmo Harjono)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 111/KOTI/1965, tanggal 5 Oktober 1965

Berasal dari Jawa Timur     Usia saat meninggal : 41 tahun
Lahir : Minggu Legi, 20 Januari 1924   di Surabaya, Jawa Timur
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Lubang Buaya, Jakarta
Zodiak : Capricorn – Aquarius       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Revolusi

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Letnan Jenderal Angkatan Darat, korban kebiadaban (dibunuh) Gerakan 30 September.


Opu Daeng Risadju (Famajjah, Fammajah)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 85/TK/2006, tanggal 3 November 2006

Berasal dari Sulawesi Selatan     Usia saat meninggal : 84 tahun
Lahir : 1880   di Palopo, Sulawesi Selatan
Gugur/Meninggal : Senin Pahing, 10 Februari 1964   di Palopo, Sulawesi Selatan
Shio, Unsur, Sifat : Naga, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Perkuburan Raja-Raja Luwu, Lakkoe, Palopo, Sulawesi Selatan.

Kategori : Revolusi

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Bangsawan Keturunan Raja-raja Gowa, Bone dan Luwu. Cendekiawan, Wanita Politisi Pertama, berperang melawan Belanda selama Revolusi Nasional. Ketua PSII Wilayah Tanah Luwu Palopo.


Pierre Tendean (Kapten CZI. Pierre Andreas Tendean)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 111/KOTI/1965, tanggal 5 Oktober 1965

Berasal dari DKI Jakarta     Usia saat meninggal : 26 tahun
Lahir : Selasa Pahing, 21 Februari 1939   di Batavia (Jakarta, Indonesia)
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Lubang Buaya, Jakarta, Indonesia
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Tanah, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Revolusi

 Ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution, korban kebiadaban (dibunuh) Gerakan 30 September.


R. Suprapto (Letjend. Raden Soeprapto)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 111/KOTI/1965, tanggal 5 Oktober 1965

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 45 tahun
Lahir : Minggu Pahing, 20 Juni 1920   di Purwokerto, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Lubang Buaya, Jakarta
Zodiak : Gemini       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Logam, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Revolusi

 Letnan Jenderal Angkatan Darat, korban kebiadaban (dibunuh) Gerakan 30 September. Ajudan Jenderal Sudirman, turut dalam pertempuran Ambarawa. Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/Diponegoro. Deputy Kepala Staf Angkatan Darat wilayah Sumatera.


S. Parman (Letjend. Siswondo Parman)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 111/KOTI/1965, tanggal 5 Oktober 1965

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 47 tahun
Lahir : Minggu Legi, 4 Agustus 1918   di Wonosobo, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Lubang Buaya, Jakarta
Zodiak : Leo       Shio, Unsur, Sifat : Kuda, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Revolusi

 Letnan Jenderal Angkatan Darat. Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di Yogyakarta. Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Atase Militer RI di London. Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat. Perwira Intelijen RI, korban kebiadaban (dibunuh) Gerakan 30 September.


Sugiono (Kolonel Inf. R. Sugiyono Mangunwiyoto)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 118/KOTI/1965, tanggal 19 Oktober 1965

Berasal dari DIY (Yogyakarta)     Usia saat meninggal : 39 tahun
Lahir : Kamis Legi, 12 Agustus 1926   di Gedaren, Sumbergiri, Ponjong, Gunung Kidul, DI Yogyakarta.
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Kentungan, Yogyakarta
Zodiak : Leo       Shio, Unsur, Sifat : Macan, Api, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara Semaki, Yogyakarta.

Kategori : Revolusi

 Kolonel Infanteri TNI Angkatan Darat. Wakil Dan Rem 072/Pamungkas DIY. Kolonel Sugiyono bersama Dan Rem 072 Brigjen. Katamso menjadi korban kebiadaban (dianiaya dan dibunuh) oleh Gerakan 30 September di Kentungan, Yogyakarta.


Sutoyo Siswomiharjo (Mayjen. Soetojo Siswomihardjo)
Pahlawan Revolusi : Keppres No. 111/KOTI/1965, tanggal 5 Oktober 1965

Berasal dari Jawa Tengah     Usia saat meninggal : 43 tahun
Lahir : Senin Legi, 28 Agustus 1922   di Kebumen, Jawa Tengah
Gugur/Meninggal : Jumat Legi, 1 Oktober 1965   di Lubang Buaya, Jakarta
Zodiak : Virgo       Shio, Unsur, Sifat : Anjing, Air, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

Kategori : Revolusi

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Kepala Staf Markas Besar Polisi Militer. Asisten Atase Militer Kedutaan Besar Indonesia di London. Inspektur Kehakiman / Jaksa Militer Utama. Menjadi korban kebiadaban (dibunuh) Gerakan 30 September.


Abdul Muis (Abdoel Moeis)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 75 tahun
Lahir : Selasa Legi, 3 Juli 1883   di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Rabu Pon, 17 Juni 1959   di Bandung, Jawa Barat
Zodiak : Cancer       Shio, Unsur, Sifat : Kambing, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung, Jawa Barat.

Kategori : Sastra

 Sastrawan, Politisi, Wartawan Indonesia. Pendorong berdirinya Technische Hooge School (ITB, Institut Teknologi Bandung). Tahun 1913 beliau bergabung dengan Sarekat Islam, dan menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda. Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian. Pendiri Persatuan Perjuangan Priangan. Pengarang Novel “Salah Asuhan”.


Agus Salim (K.H. Agoes Salim)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional : Keppres No. 657 Tahun 1961, tanggal 27 Desember 1961

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 70 tahun
Lahir : Rabu Wage, 8 Oktober 1884   di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Kamis Pahing, 4 November 1954   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Libra       Shio, Unsur, Sifat : Monyet, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kategori : Sastra

 Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Politisi, Jurnalis, Penulis Buku. Menteri Luar Negeri. Pemimpin kedua di SI (Sarekat Islam). Anggota BPUPKI. Ketua Dewan Kehormatan PWI.


Ali Haji (Raja Ali Haji Bin Raja Haji Ahmad)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 89/TK/2004, tanggal 5 November 2004

Berasal dari Kepulauan Riau     Usia saat meninggal : 65 tahun
Lahir : 1808   di Selangor
Gugur/Meninggal : 1873   di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, Indonesia.
Shio, Unsur, Sifat : Naga, Tanah, Yang
Lokasi Makam/Monumen : Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang

Kategori : Sastra

 Sejarawan, pujangga, dan penulis buku. Pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu, yang kelak dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai Bahasa Indonesia.


Amir Hamzah (Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 106/TK/1975, tanggal 3 November 1975

Berasal dari Sumatera Utara     Usia saat meninggal : 35 tahun
Lahir : Selasa Pahing, 28 Februari 1911   di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara
Gugur/Meninggal : Rabu Legi, 20 Maret 1946   di Kwala Begumit, Binjai, Langkat, Sumatera Utara
Zodiak : Pisces       Shio, Unsur, Sifat : Babi, Logam, Yin
Lokasi Makam/Monumen : Kompleks Masjid Azizi, di Tanjungpura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara

Kategori : Sastra

 Sastrawan (Penyair) dan sering disebut Raja Penyair Zaman Pujangga Baru. Satu-satunya Penyair Indonesia berkelas internasional pada era pra-Revolusi Nasional Indonesia.


Moh. Yamin (Prof. Mohammad Yamin, SH.)
Pahlawan Nasional : Keppres No. 88/TK/1973, tanggal 6 November 1973

Berasal dari Sumatera Barat     Usia saat meninggal : 59 tahun
Lahir : Senin Pahing, 24 Agustus 1903   di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat
Gugur/Meninggal : Rabu Legi, 17 Oktober 1962   di Jakarta, Indonesia
Zodiak : Virgo       Shio, Unsur, Sifat : Kelinci, Air, Yin
Lokasi Makam/Monumen : MPN Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH., Talawi, Kec. Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat

Kategori : Sastra

 Aktivis Kemerdekaan Indonesia. Sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, ahli hukum. Anggota BPUPKI. Menteri Penerangan. Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan. Menteri Kehakiman. Menteri Sosial dan Budaya. Ketua Dewan Perancang Nasional. Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara, dsb.


Ismail Marzuki
Pahlawan Nasional : Keppres No. 89/TK/2004, tanggal 5 November 2004

Berasal dari DKI Jakarta     Usia saat meninggal : 44 tahun
Lahir : Senin Kliwon, 11 Mei 1914   di Kwitang, Senen, Jakarta.
Gugur/Meninggal : Minggu Kliwon, 25 Mei 1958   di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat
Zodiak : Taurus       Shio, Unsur, Sifat : Macan, Kayu, Yang
Lokasi Makam/Monumen : TPU Karet Bivak, Jakarta

Kategori : Seni

 Komposer besar Indonesia. Pencipta Lagu-Lagu Patriotik, antara lain Rayuan Pulau Kelapa, Gugur Bunga, Aryati, Juwita Malam, Sepasang Mata Bola, Melati di Tapal Batas, Indonesia Pusaka, dsb.