Alasan PANCASILA Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia (2)


Sebagai Presiden Republik lndonesia aku berkesempatan sering-sering untuk melawat ke daerah-daerah.
Sering-sering aku naik kapal udara. Malahanjikalau di dalam kapal udara aku sering-sering-katakanlah-main gil a dengan pilot. Pilot terbang tinggi, aku tanya kepadanya: Saudara pilot, berapa tinggi? “12.000 kaki, Paduka Yang Mulia.” - Kurang tinggi, naikkan lagi!
“13.000 kaki.” - Hahaa, kurang tinggi, Bung! “14.000 kaki.” - Kurang tinggi!
“15.000 kaki.” - Kurang tinggi!
“16.000 kaki.” - Kurang tinggi!
“17.000 kaki. ” – Kurang tinggi!
“Sudah tidak bisa lagi, Paduka Yang Mulia. Kapal udara kita sudah mencapai plafon”.
Plafon itu ialah tempat yang setinggi-tingginya bagi kapal udara itu. Aku terbang dari barat ke timur, dari timur ke barat. Dari utara ke selatan, dari selatan ke utara. Aku melihat tanah air kita. Allahuakbar, cantiknya bukan main! Dan bukan saja cantik, sehingga benarlah apa yang diucapkan oleh Multatuli di dalam kitab Max Havelaar, bahwa lndonesia ini adalah demikian cantiknya, sehingga ia sebutkan, “Insulinde die zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd-Indonesia yang laksana ikat pinggang terbuat daripada zamrud berlilit-lilit sekeliling khatulistiwa!” lndahnya demikian.
Ya memang, Saudara-saudara, jikalau engkau terbang 17.000 kaki di angkasa dan melihat ke bawah. kelihatan betul-betul lndonesia ini adalah sebagai ikat pinggang yang terbuat dari zamrud, melilit mengelilingi khatulistiwa. Berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu–ribu pulau Saudara lihat. Dan tiap-tiap pulau itu berwarna–warna. Ada yang hijau kehijauan, ada yang kuning kekuningan. Indah permai tanah air kita ini, Saudara-saudara. Lebih dari 3000 pulau. Bahkan kalau dihitung dengan yang kecil-kecil, 10.000 pulau-pulau.
Terbanglah kapal udaraku datang di daerah Aceh. Rakyat Aceh menyambut kedatangan Presiden-rakyat beragama Islam. Terbang lag i kapal udaraku, turun di Siborong-borong, daerah Batak. Rakyat Batak menyambut dengan gegap-gempita keda-tangan Presiden Repu-blik Indonesia-agamanya Kristen.
Terbang lagi, Saudara-saudara, ke dekat Sibolga-agama Kris-ten.
Terbang lagi ke selatan, ke Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan­agama Islam. Demikianlah pula di Jawa. Kebanyakan ber-agama Islam, di sana Kristen, sini Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Banjarmasin-kebanyakan Islam. Tetapi di Banjar-masin itu aku berjumpa utusan-utusan dari suku Dayak, Saudara-saudara. Malahan di Samarinda aku berjumpa dengan utusan–utusan, bahkan rakyat Dayak yang 9 hari 9 malam turun dari gunung-gunung untuk menjum­pai Presiden Republik Indonesia. Mereka tidak beragama Islam, tetapi beragama agamanya sendiri.
Aku ber – ibu orang Bali. Ida Ayu Nyoman Rai nama Ibuku. Malahan akujikalau beristirahat di Tampaksiring, desa kecil di Bali, rakyat Bali menyebutkan aku -kecuali Bung Karno, Pak Karno-menyebutkan Ida Bagus Made Karno. Aku melihat masyarakat Bali yang dua juta manusia itu beragama Hindu-Bali. Di Singaraja ada masyarakat Islam sedikit. Di Denpasar ada masyarakat Islam sedikit. Terbang lagi kapal udaraku ke Sumbawa-Islam. Terbang kapal udaraku ke Sumbawa-Kristen Pro-testan. Terbang kapal udaraku ke Flores, pulau di mana aku dulu diinternir-rakyat Flores kenal akan Bung Karno, Bung Karno kenal akan rakyat Flores-sebagian besar rakyat Flores itu beragama Rooms Katholik (Kristen). Terbang lag i kapal udaraku ke Timor-sebagian besar rakyatnya Protestan Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Ambon-Kristen. Sekitar Ambon itu adalah masyarakat Kristen. Terbang lagi ke utara, ke Ternate-Islam di Ternate. Dari Ternate terbang ke Manado, Minahasa sekeliling-nya-Kristen. Ke selatan, Makasar-Islam. Di tengah Sulawesi, Toraja-sebagian besar Kristen, sebagian belum ber-agama.
Benar apa tidak perkataanku, Saudara-saudara, bahwa bangsa  lndonesia adalah beraneka agama? Dernikian pula aku berkata, bahwa bangsa lndonesia ini beraneka adat-istiadat, beraneka suku pula. Beraneka suku, beraneka agama, beraneka adat-istiadat: lni yang menjadi pikiran Bapak berpuluh-puluh tahun.
Sebelum kita memproklamirkan kemerdekaan lndonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, aku ingin bersama-sama dengan pejuang­-pejuang lain membentuk satu wadah. Wadah yang bernama negara. Wadah untuk masyarakat, bagi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat!
Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka-aneka itu dan yang masyarakat lndonesia mau duduk pula di dalamnya­yang diterima oleh Saudara-saudara yang beragama Islam, yang beragama Kristen Katolik, yang beragama Kristen Protestan, yang beragama Hindu-Bali, dan oleh Saudara-saudara yang beragama lain­yang bisa diterima oleh Saudara-saudara yang adat-istiadatnya begitu, dan yang bisa diterima sekalian Saudara.
Aku tidak mencipta Pancasila, Saudara-saudara. Sebab sesuatu dasar negara ciptaan tidak akan tahan lama. lni adalah satu ajaran yang dari mula-mulanya kupegang teguh: “Jikalau engkau hendak mengadakan dasar untuk sesuatu negara, dasar untuk sesuatu wadah, jangan bikin sendiri, jangan Anggit sendiri, jangan karang sendiri. Selamilah sedalam-dalamnya lautan dari sejarah! Gali sedalam­dalamnya bumi dari sejarah!”
Aku melihat masyarakat lndonesia, sejarah rakyat lndonesia. Dan aku menggali lima mutiara yang terbenam di dalamnya, yang tadinya lima mutiara itu cemerlang, tetapi oleh karena penjajahan asing yang 350 tahun lamanya, terbenam kembali di dalam bumi bangsa lndonesia. Aku oleh Universitas Gajah Mada dianugerahi titel Doctor Honoris Causa dalam ilmu ketatanegaraan. Tatkala promotor Prof. Mr. Notonegoro mengucapkan pidatonya pada upacara pemberian titel Honoris Causa, pada waktu itu beliau berkata : “Saudara Sukarno, kami menghadiahkan kepada Saudara  titel kehormatan Doctor Honoris Causa dalam ilmu ketatanegaraan, oleh karena Saudara pencipta Pancasila”..
Di dalam jawaban itu aku berkata :”Dengan terharu aku menerima titel Doctor Honoris Causa yang dihadiahkan kepadaku oleh Universitas Gajah Mada, tetapi aku tolak dengan tegas ucapan Profesor Notonegoro, bahwa aku adalah pencipta Pancasila”.
Aku bukan pencipta Pancasila. Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanya menggali Pancasila daripada buminya bangsa Indonesia. Pancasila terbenam di dalam bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya, aku gali kembali dan aku sembahkan Pancasila ini di atas persada bangsa Indonesia kembali.
Tidakkah benar, Saudara-saudara, bahwa kita sebelum ada Bung Karno, sebelum ada Republik Indonesia, sebenarnya telah mengenal akan Pancasila? Tidakkah benar kita-dari dahulu mula-telah mengenal Tuhan, – hidup di dalam alam Ketuhanan Yang Maha Esa? Kita dahulu pemah menguraikan hal ini panjang lebar. Bukan anggitan baru, bukan karangan baru. Tetapi sudah sejak dari dahulu mula bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang cinta kepada Ketuhanan. Ya, kemudian Ketuhanannya itu disempurnakan oleh agama-agama. Disempurnakan oleh Agama Islam, disempurnakan oleh agama Kristen. Tetapi dari dahulu mula kita memang adalah satu bangsa yang berketuhanan. Demikian pula, tidakkah benar bahwa kita ini dari dahulu mula telah cinta kepada Tanah Air dan Bangsa? Hidup di dalam alam kebangsaan? Dan bukan saja kebangsaan kecil, tetapi kebangsaan Indonesia. Hai, engkau pemuda-pemuda, pemah engkau mendengar nama kerajaan Mataram? Kerajaan Mataram yang membuat candi­candi Prambanan, candi Borobudur? Kerajaan Mataram ke-2 di waktu itu di bawah pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo? Tahukah Saudara-saudara akan arti perkataan Mataram? Jikalau tidak tahu, maka aku akan berkata kepadamu, Mataram berarti Ibu. Masih ada persamaan perkataan Mataram itu, misalnya perkataan mutter di dalam bahasa Jerman: Ibu; mother dalam bahasa Inggris: Ibu; moeder dalam bahasa Belanda: Ibu; mater dalam bahasa Latin: Ibu. Mataram berarti Ibu.
Demikian kita cinta kepada Bangsa dan Tanah air dari zaman dulu mula, sehingga negeri kita, negara kita, kita putuskan-Mataram.
Rasa kebangsaan, bukan rasa baru bagi kita. Mungkinkah kita mempunyai kerajaan seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dahulu, jikalau kita tidak mempunyai rasa kebangsaan yang berkobar-kobar di dalam dada kita?
Ya, kata pemimpin besar yang bernama Gajah Mada, Sang Maha Patih Ihino Gajah Mada. Benar kita mempunyai pemimpin besar itu. Benar pemimpin besar itu telah bersumpah satu kali “tidak akan makan palapa, jikalau belum segenap kepulauan Indonesia tergabung di dalam satu negara yang besar”. Benar kita mempunyai pemimpin yang besar itu. Tetapi apakah pemimpin inikah yang sebenarnya pencipta dari kesatuan kerajaan Majapahit? Tidak!
Permimpin besar sekadar adalah sambungan lidah dari rasanya rakyat jelata. Tidak ada satu orang pemimpin besar-walaupun besarnya bagaimana pun juga-bisa membentuk satu negara yang sebesar Majapahit ialah satu negara yang besar, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke. Bahkan sampai ke daerah Filipina sekarang.
Katakanlah Bung Karno pemimpin besar atau pemimpin kecil ­pemimpin gurem1 atau pemimpin yang bagaimana pun. Tetapi jikalau ada orang yang berkata, “Bung Karno yang mengadakan negara Repu­blik Indonesia”-tidak benar! !! Jangan pun satu Sukarno-sepuluh Sukarno, seratus Sukarno, seribu Sukarno-tidak akan bisa membentuk negara Republik Indonesia, jikalau segenap rakyat jelata Republik Indonesia tidak berjuang mati-matian!
Kemerdekaan adalah hasil dari perjuangan segenap rakyat. Maka itu pula menjadi pikiran Bapak, Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat,-tetapi milik kita semua dari Sabang sampai ke Merauke! Perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini dijalankan oleh semua bangsa Indonesia.
Aku melihat di dalam daerah-daerah yang kukunjungi-di mana pun aku datang, aku melihat Taman-taman Pahlawan. Bukan saja di bagian-bagian yang beragama Islam, tetapi juga di bagian–bagian yang beragama Kristen. Aku melihat Taman-taman Pahlawan di mana-mana. Di sini di Surabaya-pada tanggal l0 November tahun 1945-siapa yang berjuang di sini? Segenap pemuda-pemudi, kiai, kaum buruh, kaum tani-segenap rakyat Surabaya-berjuang dengan tiada perbedaan agama, adat-istiadat, golongan atau suku.
Rasa kebangsaan kita sudah dari sejak zaman dahulu, demikian pula rasa perikemanusiaan. Kita bangsa Indonesia adalah satu-satunya bangsa di dalam sejarah dunia ini, satu-satunya bangsa yang tidak pernah menjajah bangsa lain. Aku tentang orang-orang ahli sejarah , yang bisa membuktikan bahwa bangsa Indonesia pernah menjajah bangsa lain. Apa sebab? Oleh karena bangsa Indonesia berdiri di atas dasar perikemanusiaan sejak dari zaman dahulu. Dari zaman Hindu kita sudah mengenal perikemanusiaan. Disempurnakan lagi rasa perikemanusiaan itu dengan agama-agama yang kemudian.
Di dalam zaman Hindu kita telah mengenal ucapan “Tat -twam asi’. Apa artinya Tat twam asi? Tat twam asi berarti “Aku adalah dia, dia adalah aku”. Dia pakai, aku ikut pakai. Dia senang, aku ikut senang. Aku senang, dia ikut senang. Aku sakit, dia ikut sakit. Tat twam asi­perikemanusiaan.
Kemudian datanglah di sini agama Islam, mengajarkan kepada kita perikemanusiaan pula. Malah lebih sempurna. Diajarkan kepada kita akan ajaran-ajaran fardhu kifayah-kewajiban-kewajiban yang dipikulkan kepada seluruh masyarakat. Misalnya jikalau ada orang mati di kampungmu, dan kalau orang mati itu tidak terkubur-siapa yang dianggap berdosa, siapa yang dikatakan berdosa, siapa yang akan mendapat siksaan dari dosa itu? Bukan sekadar kerabat famili dari sang mati itu. Tidak! Segenap masyarakat di situ ikut tanggungjawab.
Demikian pula bagi agama Kristen. Tidakkah di dalam agama Kristen itu kita diajarkan cinta kepada Tuhan, lebih dari segala sesuatu dan cinta kepada sesama manusia, sama dengan cinta kepada diri kita sendiri? “Heb U naasten lief gelijk U zelve. God boven alles”2. Jadi rasa kemanusiaan, bukan barang baru bagi kita.
Demikianlah pula rasa kedaulatan rakyat. Apa sebab pergerakan nasional Indonesia laksana api mencetus dan meledakkan segenap rasa kebangsaan Indonesia? Oleh karena pergerakan nasional Indonesia itu berdiri di atas dasar kedaulatan rakyat. Engkau ikut berjuang! Dari dahulu mula kita gandrung kepada kedaulatan rakyat. Apa sebab engkau ikut berjuang? Oleh karena engkau merasa memperjuangkan dasar kedaulatan rakyat.
Bangsa Indonesia dari dahulu mula telah mengenal kedaulatan rakyat, hidup di dalam alam kedaulatan rakyat. Demokrasi bukan barang baru bagi kita. Demikian pula cita-cita keadilan sosial-bukan cita­cita baru bagi kita. Jangan kira, bahwa cita-cita keadilan sosial itu buatan Bung Karno, Bung Hatta, atau komunis, atau kaum serikat rakyat, kaum sosialis. Tidak!
Dari dahulu mula bangsa Indonesia ini cinta kepada keadilan sosial.
Kalau zaman dahulu, kalau ada pemberontakan – Saudara-saudara berhadapan dengan pemerintah Belanda -semboyannya selalu “Ratu Adil”. Ratu adil paramarta. Sama rata, sama rasa. Adil, adil, itulah yang menjadi gandrung-nya jiwa bangsa Indonesia. Bukan saja di dalam alam pergerakan sekarang atau di dalam pergerakan alam nasional tetapi dari dulu mula. Maka oleh karena itulah aku berkata, baik Ketuhanan Yang Maha Esa mau-pun Kebangsaan, maupun Perikemanusiaan, maupun Kedaulatan Rakyat, maupun Keadilan Sosial, bukan aku yang mencip-takan. Aku sekadar menggali sila-sila itu. Dan sila-sila ini aku persembahkan kembali kepada bangsa lndonesia untuk dipakai sebagai dasar daripada wadah yang berisi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat. Inilah, Saudara-saudara, maka di dalam sidang Dokuritzu Zunbi Tyoosakai di dalam zaman Jepang-pertengahan tahun 1945- telah’diadakan satu sidang dari pemimpin-pemimpin Indonesia, dan di dalam sidang Dokuritzu Zunbi Tyoosakai itu dibicarakan hal-hal ini.
Pertama, apakah negara yang akan datang itu harus berdasar satu falsafah ataukah tidak? Semua berkata, “Harus berdasarkan satu falsafah!” Harus memakai dasar. Sebab kita melihat di dalam sejarah dunia ini banyak sekali negara-negara yang tidak berdasar, lantas berbuat jahat, oleh karena tidak mempunyai ancer-ancer hidup bagi rakyatnya.
Kita melihat negara-negara yang besar. Tetapi oleh karena tidak mempunyai ancer-ancer hidup, tidak mempunyai dasar hidup, dengan sedih kita melihat bahwa negara-negara itu berbuat sesuatu yang sebenarnya melanggar kepada kedaulatan dan perikemanusiaan.
Di dalam sidang Dokuritzu Zunbi Tyoosakai itu diputuskan akan memberi dasar kepada negara. Akhirnya saya mempersembahkan Pancasila. Dan syukur alhamdulillah sidang menerimanya. Dan tatkala kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dasar ini yang dipakai. Dan aku berkata, oleh karena dasar ini segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke menyambut kemerdekaan. Hanya persatuan inilah yang bisa membawa kita kepada cita-cita kita sekalian!
Di dalam Kongres Rakyat Indonesia kuanjurkan persatuan ini. Di dalam Kongres Partai Nasional Indonesia di Bandung 10 bulan yang lalu kuanjurkan persatuan ini. Oleh karena aku melihat gejala-gejala perpecahan makin lama makin meningkat, makin lama makin menampak. Bersatulah kembali, Saudara-saudara, ber-satulah rakyat Indonesia, bersatu kembali di dalam persatuan nasional revolusioner yang sebulat-bulatnya. Sebab kita duduk di dalam alam revolusi nasional. Kalau kita mengadakan persatuan yang bukan persatuan nasional revolusioner, tidak bisa kita menyelesaikan revolusi nasional kita itu. Aku hidup di dalam alam persatuan ini, aku gandrung kepada persatuan ini, maka oleh karena itulah, jikalau aku sekarang sebagai Presiden Republik lndonesia berbicara di hadapan Saudara-saudara, resmi sebagai Presiden Republik lndonesia yang membentangkan kepada Saudara-saudara dasar negara, yang aku sumpah di atasnya seba-gai Presiden. Di samping itu aku bergembira hati diberi kesempatan oleh Allah s.w.t. sebagai warga negara biasa membicarakan hal dasar–dasar negara mI.
Di dalam pidato 17 Agustus 1955 aku menganjurkan pula Panca Dharma. Apa inti dari Panca Dharma? Tak lain dan tak bukan ialah inti itu keluar dari jiwa Pancasila. Tidakkah Panca Dharma lima?
Pertama, persatuan. Kedua, yang merusak persatuan yaitu yang mengacau-ngacau keamanan ini harus kita lenyapkan. Nomor tiga, pembangunan, pembangunan, pemba-ngunan! Keempat, lrian Barat. Kelima, pemilihan umum. Pemilihan umum pada intinya ialah persatuan. Segenap bangsa Indonesia yang 80 juta ini-yang sudah dewasa 43 juta-diminta mengeluarkan suaranya dengan cara bebas, dalam alam suasana persaudaraan. Mari kita sekarang dengan tenang dalam suasana persaudaraan bangsa mengemukakan suara kita. Jiwa dari pemilihan umum adalah persatuan!
Pembangunan juga tidak bisa selesai zonder persatuan. Dapatkah engkau membangun ekonomi Indonesia dengan tidak persatuan? Tahukah engkau bahwa Indonesia ini ekonomi yang sebenarnya satu unit, satu kesatuan yang besar-yang jikalau satu daerah dikeluarkan, kocar-kacir ekonomi kita itu. Dan kita menyusun satu ekonomi kolonial, ekonomi imperialis? Tidak! Di dalam Undang-Undang Dasar kita sebutkan dengan tegas bukan ekonomi untuk membikin gendutnya perutnya satu dua orang. Tetapi ekonomi yang membikin sejahteranya segenap rakyat. Inilah dasar, inti jiwa daripada Undang-Undang Dasar kita, meskipun Undang-Undang Dasar yang dinamakan sementara.
Satu ekonomi nasional yang menjamin semua bangsa Indonesia, hidup sejahtera, layak, makmur. Bukan ekonomi yang membikin gendut orang satu. Tetapi ekonomi sama-rata, sama-rasa. Satu ekonomi yang mengandung jaminan kehidupan yang baik buat semua, di dalam suasana kesatuan dan persatuan.
Pengacau keamanan  -bahwa itu memecah kepada persatuan, merugikan kepada rakyat- perlukan masih kuuraikan? Tidak!
Irian Barat. Sebab apa Saudara-saudara menuntut Irian Barat?
Mungkin Saudara beragama Islam, di sana rakyatnya bukan Islam, lho! Kenapa Saudara menuntut Irian Barat supaya masuk di dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia? Saudara akan menjawab: “Aku menuntut lrian Barat kembali ke dalam wilayah Republik Indonesia oleh karena Irian Barat adalah sebagian dari tanah air Indonesia, oleh karena suku Irian Barat adalah sebagian dari bangsa Indonesia seluruhnya. “
Lho, kenapa saudara menuntut lrian Barat kembali kepada kekuasaan Republik? Saudara akan menjawab: “Aku menuntut Irian Barat kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia oleh karena bangsa kita adalah satu dari Sabang sampai ke Merauke”.
Jadi dasarnya ialah persatuan bangsa. Maka oleh karena itu -aku sekali lagi menganjurkan kepada segenap rakyat Indonesia, terutama sekali di hadapan pemilihan umum ini- ingat kepada persatuan. Ingat kepada persatuan! Bangsa Indonesia adalah selalu kukatakan bukan bangsa yang kecil, jumlahnya 80 juta. Lebih besar daripada bangsa yang lain-lainnya.
Aku telah -alhamdulillah- melawat ke Mesir, keArabia, ke India, ke Karachi, ke Pakistan, ke Sailan, ke Rangoon dan sebagainya, kecuali ke Eropa dan Amerika. Aku melihat bangsa kita potensinya hebat-hebat. Tidak ada satu tanah air dari sesuatu bangsa yang lebih hebat daripada tanah air Indonesia. Tidak ada satu bangsa yang lebih seragam ­sebenamya jikalau mau-dari bangsa Indonesia. Tidak ada satu tanah air yang lebih indah dari bangsa Indonesia. Jumlahnya pun tidak sedikit 80 juta. Lebih dari bangsa yang Ya, kita kalah dengan Amerika Serikat jumlah bangsa kita ini.
Kalah dengan USSR (Sovyet Uni) jumlahnya bangsa kita ini. Kalah dengan Tiongkok jumlah bangsa kita. Kalah dengan India jumlah bangsa kita. Tetapi di samping yang empat ini, Saudara-saudara, tidak ada lagi yang mengalahkan kita. Ada yang memadai kita jumlah rakyatnya, yaitu Jepang. Tetapi yang lain-lain, semuanya kurang dari kita. Mesir yang Bapak tempo hari kunjungi dan yang Bapak melihat semangatnya meluap-luap, berapa jumlah mereka? Mesir yang Bapak lihat -mereka membangun, membuat dam–dam yang besar, membuat jalan-jalan yang besar-jumlah mereka berapa? Mesir-yang membangun pula tentara, tentara yang hebat, membangun angkatan udara yang aku melihat pesawat-pesawat udara yang terbang di angkasa, Saudara-saudara , berapa jumlah mereka? Duapuluh tiga juta – kita 80 juta. Aku datang di Saudi Arabia, berapa jumlah rakyat Saudi Arabia? Enam juta – kita 80 juta!
Aku datang di Bangkok, disambut oleh Perdana Menteri Phibul Songgram. Tahukah engkau rakyat Thailand jumlahnya? Duapuluh juta-kita 80 juta. Kita bangsa yang 80 juta bukan bangsa yang kecil. Kalau kita bersatu-kataku berkali-kali-jikalau kita 80 juta bersatu­padu di dalam kesatuan nasional revolusioner, tidak ada satu cita-cita yang tidak terlaksana oleh kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: